Rapat Tahunan Menghidupkan Muharram: Panggung Ilmu di Dayah Mambaul Ulum Putri Pidie Jaya

Lensapost.net I Pidie Jaya — Suasana Aula Dayah Mambaul Ulum Putri, Lueng Teungoh, Kecamatan Bandar Dua, tampak berbeda pada Minggu malam, (3/5/2026). Usai shalat Isya berjamaah, para guru dan pimpinan dayah berkumpul dalam satu majelis yang sarat makna: merumuskan arah kegiatan keilmuan dan syiar Islam menyambut Muharram 1448 Hijriah.

Rapat tahunan itu dipimpin langsung oleh Tgk. Asnawi, S.HI, sesepuh sekaligus guru senior dayah yang juga dikenal sebagai Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bandar Dua. Kehadirannya bukan sekadar memimpin forum, tetapi juga memberi arah nilai dan ruh dari kegiatan yang akan dilaksanakan.

Di hadapan pimpinan dayah Ummi Aminah, Ketua Umum Ummi Aisyah, serta seluruh dewan guru, Tgk. Asnawi menekankan bahwa Muharram bukan hanya pergantian kalender hijriah, melainkan momentum hijrah ke arah yang lebih baik—baik dalam ilmu, akhlak, maupun pengabdian kepada umat.

“Sayembara ini bukan sekadar lomba. Ini adalah wasilah untuk melahirkan generasi yang kuat dalam turats dan siap hadir di tengah masyarakat,” ujar Tgk. Asnawi dengan nada tenang namun tegas.

Hasil musyawarah malam itu menetapkan bahwa Dayah Mambaul Ulum Putri kembali menggelar sayembara Muharram dengan ragam cabang perlombaan yang berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam klasik (turats). Ketua panitia, Tgk. Nurratul Alfarlakiyah, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini dirancang lebih variatif dan kompetitif.

Beberapa kitab yang akan dilombakan antara lain Al-Mahalli, I’anah Ath-Thalibin, Al-Bajuri, dan Bait Alfiyah—kitab-kitab yang selama ini menjadi rujukan penting dalam pendidikan dayah. Tak hanya itu, panitia juga menambahkan cabang baru seperti Tafsir Jalalain, Arbain Nawawi, dan Ta’lim Muta’allim, sebagai upaya memperluas cakupan keilmuan santri.

Selain lomba berbasis kitab, kegiatan ini juga akan diramaikan dengan Fahmil Kutub, Tahfidz Al-Qur’an, hingga praktik tajhiz mayat—sebuah keterampilan penting yang menjadi bagian dari pengabdian sosial santri di tengah masyarakat.

“Semua cabang lomba kita rancang tidak hanya menguji hafalan, tapi juga pemahaman dan kesiapan praktik. Santri tidak cukup hanya tahu, tapi juga harus mampu mengamalkan,” jelas Tgk. Nurratul.

Yang menarik, pembukaan resmi sayembara Muharram ini dijadwalkan berlangsung pada malam Senin, 13 Juni 2026. Malam pembukaan itu direncanakan menjadi momentum syiar yang melibatkan seluruh elemen dayah, bahkan masyarakat sekitar.

Di tengah jalannya rapat, satu suara yang tak kalah penting datang dari Tgk. Fitriani Alue Keutapang, guru senior yang telah lama mengabdi di Dayah Mambaul Ulum Putri. Dengan pengalaman panjang dalam mendidik santri, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan tantangan zaman.

Menurutnya, sayembara Muharram bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi ruang evaluasi bagi proses pendidikan yang berjalan di dayah. Ia melihat perlombaan kitab bukan hanya menguji kemampuan santri, tetapi juga menjadi cermin keberhasilan para guru dalam mentransfer ilmu.

“Kalau santri mampu memahami dan menjelaskan kitab dengan baik, itu bukan hanya keberhasilan mereka, tetapi juga keberhasilan sistem pendidikan kita di dayah,” ungkap Tgk. Fitriani.

Ia juga menyoroti pentingnya penanaman adab dalam setiap proses pembelajaran. Baginya, penguasaan kitab tanpa diiringi akhlak yang baik akan kehilangan makna. Karena itu, kegiatan sayembara harus tetap menempatkan nilai-nilai adab sebagai fondasi utama.

“Ilmu tanpa adab akan kering. Maka sayembara ini harus menjadi ruang untuk menumbuhkan keduanya secara bersamaan,” tambahnya.

Lebih jauh, Tgk. Fitriani menilai bahwa keterlibatan santri dalam berbagai cabang perlombaan, termasuk praktik tajhiz mayat, merupakan bentuk kesiapan dayah dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Santri tidak hanya dituntut cakap dalam forum ilmiah, tetapi juga siap hadir dalam realitas sosial.

Bagi Dayah Mambaul Ulum Putri, sayembara Muharram bukanlah kegiatan seremonial tahunan semata. Ia telah menjadi tradisi intelektual dan spiritual yang terus dijaga. Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, kegiatan ini menjadi cara dayah mempertahankan identitasnya sebagai pusat pendidikan Islam berbasis kitab kuning.

Ummi Aminah selaku pimpinan dayah menyambut baik hasil rapat tersebut. Baginya, kegiatan seperti ini adalah bentuk nyata dari kesinambungan tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama terdahulu.

“Kita ingin santri tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ruh keilmuan yang kuat. Tradisi membaca, memahami, dan mengamalkan kitab harus terus hidup,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Ummi Aisyah yang melihat sayembara ini sebagai ruang pembinaan karakter. Kompetisi, menurutnya, bukan tujuan utama, melainkan sarana untuk melatih kedisiplinan, kepercayaan diri, dan semangat belajar santri.

Di balik semua persiapan itu, peran media juga menjadi bagian penting. Tgk. Isna Maulina Al-Merduwati, yang dipercaya sebagai Media Centre Dayah, akan mengawal publikasi dan dokumentasi seluruh rangkaian kegiatan. Kehadiran media centre ini menjadi jembatan antara aktivitas dayah dengan masyarakat luas, sekaligus memperkenalkan wajah pendidikan dayah yang dinamis dan adaptif.

Malam itu, rapat ditutup dengan doa dan harapan. Harapan agar sayembara Muharram 1448 H tidak hanya berjalan sukses secara teknis, tetapi juga melahirkan dampak yang lebih luas—menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, memperkuat nilai keislaman, dan melahirkan generasi santri yang siap menjadi penerus estafet dakwah.

Dari sebuah aula sederhana di Lueng Teungoh, semangat itu mulai dirajut. Muharram bukan sekadar datang dan pergi, tetapi dihidupkan—melalui ilmu, amal, dan tradisi yang terus dijaga. Dalam setiap langkah persiapan, para guru, termasuk Tgk. Fitriani Alue Keutapang, memastikan bahwa warisan keilmuan itu tetap menyala, menerangi jalan generasi berikutnya.