ACEH  

Warga Bireuen Laporkan Dugaan Pemukulan Oknum TNI saat Penyekatan Bantuan ke Aceh Tamiang

Hermansyah melaporkan dugaan kekerasan yang dilakukan oknum aparat TNI terhadap dirinya ke Subdenpom IM/1-1 Bireuen, Sabtu, 27 Desember 2025.

LENSAPOST.NET— Hermansyah melaporkan dugaan kekerasan yang dilakukan oknum aparat TNI terhadap dirinya ke Subdenpom IM/1-1 Bireuen, Sabtu, 27 Desember 2025. Ia mengaku dipukul menggunakan popor senjata saat hendak mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Aceh Tamiang.

“Saya melaporkan aparat yang memukul saya dengan popor senjata dan menganiaya saya di Gampong Mane Tunong, Aceh Utara, Kamis malam lalu,” kata Hermansyah didampingi kawannya saat ditemui di kantor Subdenpom IM/1-1 Bireuen

Laporan pengaduan awal itu diterima oleh Dansub Denpom IM/1-1 Bireuen, Kapten CPM Andy Setiawan. Pada hari yang sama, Hermansyah juga menjalani visum di RSUD dr. Fauziah, Bireuen.

Hermansyah datang melapor bersama sekitar 50 orang anggota eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari Kabupaten Bireuen.

Menurut Hermansyah, peristiwa itu bermula ketika ia bersama rombongan berangkat dari Gampong Alu Kuta, Kecamatan Jangka, Kamis pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Rombongan sempat berhenti memperbaiki kendaraan di Keude Matang Glp Dua selama sekitar tiga jam sebelum melanjutkan perjalanan melalui jalur alternatif Awe Geutah.

Akibat antrean panjang, mereka baru tiba di Gandapura sekitar pukul 20.00 WIB. “Kami makan, minum, dan beristirahat karena kelelahan,” ujarnya.

Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Aceh Tamiang menggunakan mobil Panther pikap yang membawa barang bantuan. Namun, setibanya di sekitar Jembatan Krueng Mane, perbatasan Aceh Utara, mereka terjebak kemacetan akibat penyekatan atau sweeping oleh aparat.

“Mobil kami dihentikan dan diperiksa oleh gabungan Satlantas dan anggota TNI. Kami disuruh turun,” kata Hermansyah didampingi Rusyidi Mukhtar Ceulangiek, Keuchik Noh, Dedi Santri.

Ia mengatakan, dalam pemeriksaan tersebut, aparat tidak menemukan bendera apa pun di dalam kendaraan mereka. Rombongan yang berjumlah sekitar 15 orang itu kemudian dipersilakan melanjutkan perjalanan.

Sekitar 200 meter dari lokasi penyekatan, Hermansyah turun dari kendaraan dan melihat ke arah belakang. Ia menyaksikan keributan dan mendengar adanya pemukulan terhadap warga sipil. Ia kemudian mendekat untuk mencoba melerai.

“Saya lihat orang sipil dipukul. Saya bilang, TNI jangan memukul, kita sesama manusia,” kata Hermansyah.

Namun, upayanya itu justru berujung pada penganiayaan terhadap dirinya. Ia mengaku dipukul secara beramai-ramai oleh aparat.

“Saya dihantam ramai-ramai pakai senjata,” ujarnya.

Hermansyah menegaskan dirinya tidak membawa bendera apa pun, termasuk bendera bulan bintang.

Ia juga mengaku tidak melihat adanya bendera bulan bintang di rombongan lain maupun di sekitar lokasi penyekatan di Desa Mane Tunong, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara.

“Salah satu anggota yang pertama memukul saya memakai baju loreng. Yang menangkap saya bajunya warna cokelat. Saya dikeroyok, dipukul dengan senjata laras panjang sampai jatuh, lalu ditendang,” katanya.

Akibat kejadian itu, Hermansyah mengalami luka robek di kepala bagian kanan hingga berdarah, serta lebam di sejumlah bagian tubuh. “Kepala saya bocor, badan saya sakit dan lebam-lebam,” ujarnya.

Ia dijadwalkan kembali diperiksa dan dimintai keterangan pada Minggu, 28 Desember 2025. Sejumlah saksi mata juga akan dimintai keterangan oleh penyidik.

Sementara itu, Dansub Denpom IM/1-1 Bireuen, Kapten CPM Andy Setiawan, mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan sesuai prosedur.

“Kami lakukan penyelidikan terlebih dahulu karena belum diketahui secara pasti siapa yang melakukan perbuatan tersebut,” kata Andy.

Sebagaimana diketahui dalam kejadian tersebut dua warga Bireuen mengalami luka parah, selain Hermansyah satu korban lagi yaitu Jumra warga Gampong Siron Kecamatan Gandapura, saat ini Jumra masih dirawat di rumah sakit dr Fauziah Bireuen.[Red)