LENSAPOST.NET – Ketua DPRA, Zulfadli, menuai kecaman usai pernyataannya dalam aksi massa di Banda Aceh, 1 September 2025. Di hadapan demonstran, ia menantang agar ditambahkan tuntutan “Aceh pisah dari pusat”, yang kemudian dinilai sebagai provokasi berbahaya.
Pemerhati sosial politik Aceh, Musra Yusuf, menegaskan ucapan itu bukan sekadar candaan politik, melainkan provokasi yang berpotensi memecah belah bangsa dan mengkhianati semangat perdamaian.

“Aceh sudah membayar terlalu mahal untuk perdamaian. Jangan biarkan kepentingan sesaat menyeret rakyat kembali ke jurang konflik,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Ia mengingatkan, perdamaian yang diraih melalui MoU Helsinki 2005 dan UUPA harus dijaga dengan memperkuat implementasi otonomi, bukan menggulirkan narasi separatisme. Ketua DPRA, katanya, semestinya hadir sebagai penenang, bukan penyulut konflik.












