LENSAPOST.NET – Rusyidi Mukhtar atau yang akrab disapa Ceulangiek, Wakil Ketua Komisi I DPRA, hadir mewakili Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia (PYM) Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar dalam acara doa bersama dan peringatan Tragedi Idi Cut–Arakundoe.
Kehadiran Ceulangiek menjadi simbol komitmen lembaga Wali Nanggroe untuk terus menjaga ingatan sejarah serta memperjuangkan nilai kemanusiaan di Bumi Serambi Mekkah.
Dalam kesempatan tersebut, Ceulangiek membuka acara secara resmi sekaligus membacakan amanah tertulis dari Malik Mahmud Al-Haythar. Amanah itu berisi ajakan untuk menundukkan hati, mendoakan para syuhada dan seluruh korban yang telah mendahului, serta meneguhkan komitmen menjaga kemanusiaan dan perdamaian di Aceh.
Pesan Wali Nanggroe yang dibacakan menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi. Aceh diingatkan pernah melalui masa-masa kelam, di mana luka kemanusiaan begitu dalam dan meninggalkan jejak sejarah yang tidak boleh dilupakan. Ingatan, menurut amanah tersebut, adalah cahaya yang tidak boleh dipadamkan.
Dalam pidato itu juga disampaikan doa untuk para syuhada dan korban tragedi, termasuk mereka yang menjadi korban konflik maupun bencana alam. Ditekankan bahwa Aceh tidak dibangun oleh rasa takut, melainkan oleh keberanian dan semangat untuk bangkit dari kehancuran menuju peradaban yang lebih bermartabat.
Ceulangiek turut membacakan pesan khusus bagi generasi muda Aceh. Generasi muda diminta tidak mewarisi kebencian, melainkan mewarisi keberanian untuk membela kemanusiaan, menjaga perdamaian, dan berdiri di pihak yang lemah. Sejarah, ditegaskan, bukan untuk membebani masa depan, tetapi menjadi pelajaran agar kesalahan serupa tidak terulang.
Amanah tersebut juga menyinggung pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam, mengingat duka akibat bencana yang pernah terjadi. Pembangunan Aceh harus dilandasi keadilan, keberlanjutan, serta kepedulian terhadap generasi mendatang agar tidak lagi melahirkan penderitaan baru.
Suasana acara berlangsung khidmat dan penuh haru. Para ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, serta keluarga korban yang hadir larut dalam doa dan perenungan. Ceulangiek menegaskan kehadirannya sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menjalankan amanah Wali serta penghormatan terhadap sejarah Aceh.
Di akhir pembacaan, ditegaskan bahwa Aceh adalah tanah kehormatan, bukan tanah kebencian. Melalui doa, refleksi, dan komitmen bersama, diharapkan Aceh terus berdiri tegak sebagai daerah yang bermartabat, adil, dan damai sebagaimana pesan yang dititipkan oleh PYM Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar.












