LENSAPOST.NET — Amerika Serikat (AS) dan Israel disebut akan terus menargetkan Pemimpin Tertinggi baru Iran yang dipilih setelah terbunuhnya Ali Khamenei.
Majelis Pakar Iran dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa segera setelah pembunuhan Khamenei, meskipun negara berada dalam kondisi perang dan menghadapi ancaman langsung dari AS dan Israel, lembaga tersebut segera mengagendakan penunjukan pemimpin baru melalui “sesi luar biasa”.
Pada Minggu, 8 Maret 2026, Mojtaba Khamenei diperkenalkan oleh Majelis Pakar sebagai pemimpin ketiga dalam sejarah 47 tahun Republik Islam Iran.
Parlemen Iran menyatakan Mojtaba Khamenei (56), putra kedua Ali Khamenei, terpilih sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran dengan mayoritas suara yang sangat besar dalam “sesi luar biasa” yang digelar pada Minggu (8/3/2026).
Ayahnya, Ali Khamenei, telah menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989 setelah menggantikan Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran melalui Revolusi Iran 1979.
Ali Khamenei diketahui memiliki enam anak, yakni Mustafa, Mojtaba, Masoud, Meysam, Bashari, dan Hoda. Di antara anak-anaknya, Mojtaba kerap dianggap sebagai sosok yang paling mirip dengan ayahnya, baik dari segi penampilan maupun pandangan intelektual.
Trump Mengancam Pemimpin Tertinggi Iran
Sebelum pengumuman resmi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama militer Israel telah mengancam akan menargetkan siapa pun yang menjadi pemimpin tertinggi Iran.
“Dia akan membutuhkan persetujuan kita. Jika dia tidak mendapatkannya, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News, Minggu.
Trump juga menyatakan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran dipimpin oleh pemimpin yang tidak sesuai dengan kepentingan Washington.
“Kita ingin memastikan kita tidak perlu mundur setiap 10 tahun, tanpa presiden seperti saya yang tidak melakukan itu,” lanjutnya.
Presiden AS itu juga mengklaim ada banyak tokoh dari “rezim lama” yang dinilai memenuhi syarat untuk menggantikan Ali Khamenei.
“Ada orang-orang dari rezim lama yang memenuhi syarat untuk menggantikan Ali Khamenei,” kata Trump, merujuk pada pemimpin tertinggi Iran yang tewas pada hari pertama serangan AS–Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Trump juga menuduh Iran memiliki rencana untuk menguasai kawasan Timur Tengah dan menyatakan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan untuk mencegah rencana tersebut.
“Mereka hanyalah macan kertas. Percayalah, mereka bukan macan kertas seminggu yang lalu. Mereka akan menyerang. Rencana mereka adalah menyerang seluruh Timur Tengah, dan menguasainya,” ujarnya.
Meski tidak menutup kemungkinan mengirim pasukan khusus untuk menyita uranium yang diperkaya milik Iran, Trump menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka.
“Semuanya mungkin terjadi. Semuanya,” katanya.
Ketika ditanya mengenai kapan perang dengan Iran akan berakhir, Trump menjawab singkat.
“Saya tidak tahu. Saya tidak pernah memprediksi. Yang bisa saya katakan adalah bahwa kita lebih cepat dari jadwal, baik dalam hal efektivitas maupun waktu,” ujarnya.
Israel Akan “Mengejar” Pengganti Khamenei
Majelis Pakar Iran sebelumnya telah mengumumkan rencana pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran dalam sesi yang digelar pada Minggu.
Menanggapi hal tersebut, militer Israel menyatakan akan terus mengejar siapa pun yang berupaya menjadi pengganti Khamenei.
“Pasukan kami akan mengejar siapa pun yang berupaya menunjuk pengganti Pemimpin Tertinggi Iran,” tulis militer Israel dalam pernyataannya.
Pernyataan itu memperkuat sinyal dari Trump bahwa konflik dengan Iran kemungkinan tidak akan berakhir sampai negara tersebut kehilangan kemampuan militer atau kepemimpinan yang efektif.
Serangan udara gabungan AS dan Israel juga dilaporkan menghantam sejumlah fasilitas minyak di Teheran pada Minggu, memicu kebakaran besar dan asap tebal yang menyelimuti langit ibu kota Iran tersebut.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan menjadi pertama kalinya fasilitas minyak Iran diserang sejak perang dimulai.
Hingga kini, serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran telah berlangsung selama sembilan hari.
Menurut pejabat setempat, lebih dari 1.300 orang dilaporkan tewas di Iran dan sekitar 300 orang di Lebanon, sementara sekitar selusin orang dilaporkan tewas di Israel.
Kronologi Perang AS–Israel vs Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Sejumlah rudal ditembakkan ke berbagai wilayah negara tersebut, termasuk ibu kota Teheran.
Serangan itu terjadi tidak lama setelah perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran digelar di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026.
Pertemuan yang merupakan putaran ketiga tersebut berakhir tanpa kesepakatan, meskipun kedua pihak sempat berencana melanjutkan pembicaraan ke tahap berikutnya.
Selama ini, Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya.
Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankan hanya untuk tujuan damai, seperti kebutuhan energi dan penelitian.
Pada tahun sebelumnya, Amerika Serikat juga beberapa kali memperingatkan bahwa mereka dapat mengambil “opsi militer” jika Iran tidak memenuhi tuntutan dalam proses perundingan.
Ketegangan semakin meningkat setelah pada 22 Juni 2025 Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir Iran untuk mendukung operasi militer Israel yang berlangsung selama 12 hari terhadap Iran.
Upaya diplomasi sempat kembali dilakukan melalui dialog lanjutan dengan Oman sebagai mediator. Oman bahkan menyebut pembicaraan di Jenewa menunjukkan adanya “kemajuan signifikan”.
Namun sejumlah isu penting tetap belum menemukan titik temu. Harapan mencapai kesepakatan akhirnya kembali pupus setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan baru ke Iran pada 28 Februari 2026.
Menyusul serangan tersebut, Iran memutuskan menarik diri dari proses perundingan selama serangan AS dan Israel terhadap negara itu masih berlangsung.











