LENSAPOST.NET — Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK), menggelar pembelajaran lapangan mata kuliah Sosiologi Masyarakat Aceh di UPTD Museum Aceh, Sabtu (10/10/2026)
Kegiatan ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari sejarah, adat, identitas, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh melalui koleksi serta informasi yang tersedia di museum.
Pembelajaran lapangan tersebut didampingi dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Masyarakat Aceh, Dara Fatia dan Bukhari, serta dosen Ilmu Politik, Siti Hardiyanti. Keterlibatan dosen dari dua program studi ini menjadi bagian dari kolaborasi lintas disiplin untuk memperkaya pemahaman mahasiswa tentang masyarakat Aceh.
Dara Fatia selaku ketua pelaksana menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan menghubungkan materi perkuliahan dengan sumber pengetahuan di lapangan. Mahasiswa diajak mengenali warisan budaya Aceh sekaligus memahami kaitannya dengan nilai, norma, hubungan sosial, dan perubahan kehidupan masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar tentang masyarakat Aceh di ruang kelas, tetapi juga mengenal langsung warisan budayanya dan menjadi bagian dari generasi yang ikut memperkenalkan serta melestarikannya,” ujar Dara.
Selama kunjungan, mahasiswa diarahkan mengamati koleksi museum, menggali informasi, dan menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep sosiologi yang telah dipelajari di kelas.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memahami makna sosial di balik peninggalan sejarah dan berbagai bentuk kebudayaan masyarakat Aceh, termasuk hubungan antara kehidupan masa lalu dan dinamika masyarakat saat ini.
Pendampingan dosen juga mendorong mahasiswa mengembangkan pengamatan menjadi analisis sosiologis, terutama terkait pewarisan nilai, pembentukan identitas, adat istiadat, dan perubahan sosial antargenerasi.
Keterlibatan dosen Ilmu Politik turut membuka ruang pembelajaran lintas disiplin, khususnya dalam menghubungkan aspek sosial budaya dengan kekuasaan, kelembagaan, dan perkembangan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa didorong menghasilkan konten edukatif mengenai sejarah dan budaya Aceh melalui media sosial. Upaya ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pengetahuan yang diperoleh selama kunjungan, terutama kepada generasi muda.
“Kami juga mendorong mahasiswa untuk menghasilkan konten edukatif melalui media sosial, sehingga pengetahuan yang mereka peroleh dari museum tidak berhenti pada kegiatan kunjungan, tetapi dapat disebarluaskan kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” jelas Dara.
Pembuatan konten tersebut sekaligus menjadi sarana bagi mahasiswa untuk berlatih mengolah dan menyampaikan informasi secara menarik serta bertanggung jawab, dengan tetap memperhatikan ketepatan fakta dan konteks budaya.
Kegiatan bertema Edukasi Sosial Budaya Aceh Berbasis Museum ini juga mengintegrasikan pembelajaran dengan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi sosial budaya serta penyebarluasan pengetahuan kepada publik.
Dara berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat peran Museum Aceh sebagai sumber pengetahuan dan ruang pembelajaran yang dekat dengan generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin turut memperkenalkan Museum Aceh sebagai ruang edukasi yang tidak hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan tentang kehidupan sosial dan budaya masyarakat Aceh,” tutup Dara.












