Di Bawah Kepercayaan Ketua PWNU Aceh, Abati Mukhtar Jalani Misi Kemanusiaan di Bawah Panji NU Tanpa Panggung Politik

Ketua PWNU Aceh Abu Sibreh Serahkan bantuan nahdliyin untuk disalurkan di Aceh Utara dibawah koordinasi Abati Mukhtar

LENSAPOST.NET-Di tengah duka panjang banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, hadir sosok-sosok yang bekerja dalam senyap, jauh dari sorotan jabatan dan struktur resmi.

Salah satunya adalah Tgk. Mukhtar Bayu, yang lebih akrab disapa Abati Mukhtar. Meski saat ini tidak lagi menjabat dalam struktur Nahdlatul Ulama, langkah pengabdiannya justru semakin nyata—menyusuri kamp-kamp pengungsian, mengantar bantuan, dan menguatkan warga yang tertimpa musibah.

Abati Mukhtar pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris PCNU Aceh Utara. Kini, setelah masa jabatannya berakhir dan sambil menunggu dinamika kepemimpinan NU ke depan, ia memilih tetap bergerak di jalur kultural. Pengabdian seperti ini bukan panggung kampanye untuk jabatan lima tahun kedepannya tetapi pengabdian tanpa tapal batas.

“Mengumpulkan bantuan dari jamaah dan menyalurkan kepada masyarakat terdampak musibah bukanlah kampanye untuk meraih jabatan di PCNU, ini bentuk pengabdian tanpa harus tercatat menjadi warga struktural, pasca menjadi alumni Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) esensi Pengabdian itu telah selesai dalam pemahaman tinggal implementasi di masyarakat, ” lanjutnya

Baginya, NU bukan semata struktur organisasi, tetapi rumah besar pengabdian yang hidup melalui amal nyata di tengah umat.

“Ber-NU itu bukan soal jabatan. Ketika struktur berhenti, pengabdian tidak boleh ikut berhenti,” ujar Abati Mukhtar suatu sore di sela-sela kunjungannya ke kamp pengungsian kepada lensapost.net, Kamis, (25/12/2025).

Pandangan itu bukan sekadar slogan. Bersama jamaah pengajian, sahabat-sahabat NU, dan simpatisan Nahdliyyin, Abati Mukhtar menggalang bantuan, mengumpulkan logistik, dan turun langsung ke lokasi-lokasi terdampak.

Bendera NU dikibarkan bukan untuk simbol, melainkan sebagai penanda bahwa jam’iyah ini hadir di tengah penderitaan umat. Pergerakan membantu umat saat musibah ini juga tanpa embel-embel dan misi politik baik jangka pendek dan panjang juga bukan kampanye untuk meraih jabatan.

“Ada sahabat dan rekan kita berpandangan negatif atau suul zan dengan ada ” Ada Bak Wan Di Balik Batu” , kita melakukan aksi kemanusiaan sebagai “kampanye” kita anggap angin berlalu dan kita do’a kan di maafkan anggapan negatif tersebut. Intinya saat seperti ini, marilah kita fokus bantu apa saja yang dapat disumbangkan kepada saudara kita yang tertimpa musibah, “pintanya.

Pengabdian Abati Mukhtar tak lepas dari latar belakangnya sebagai alumni Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU). Dari proses kaderisasi itu, ia menyerap nilai bahwa kepemimpinan sejati adalah keberanian hadir di saat sulit, bukan sekadar duduk dalam forum resmi. Nilai tersebut terus ia bawa hingga hari ini, bahkan ketika ia tak lagi berada dalam lingkar struktural.

Di Aceh Utara, Abati Mukhtar dikenal sebagai pimpinan Dayah Ma’had Al-Insaniyah Al-Aziziyah Bayu. Dunia dayah membentuk kepekaannya terhadap penderitaan umat. Maka ketika banjir bandang merenggut rumah, harta, dan ketenangan warga, ia merasa terpanggil untuk hadir bukan hanya sebagai tokoh NU, tetapi sebagai sesama manusia.

Perjalanan kemanusiaan itu mendapat kepercayaan langsung dari Ketua PWNU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali, yang akrab disapa Abu Sibreh. Dalam salah satu kunjungannya ke wilayah Nahdliyyin terdampak bencana, Abu Sibreh menyerahkan mandat moral kepada Abati Mukhtar dan rekan-rekannya untuk menyalurkan bantuan kepada warga.

“Ini amanah. Gunakan sebaik mungkin, tepat sasaran, dan jangan tinggalkan yang paling membutuhkan,” pesan Abu Sibreh saat itu.

Kepercayaan tersebut menjadi energi tersendiri. Abati Mukhtar tidak bekerja sendiri. Ia bergerak bersama sosok-sosok militan kemanusiaan seperti Sudirman, yang dikenal tak kenal lelah, dan Gus Sudir, yang berkeliling dari satu daerah ke daerah lain menyapa warga korban musibah. Mereka menyusuri kamp pengungsian, mendengar keluhan warga, dan memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan yang berhak.

Di lapangan, mereka menyaksikan langsung wajah-wajah lelah para pengungsi: anak-anak yang kehilangan ruang bermain, ibu-ibu yang cemas memikirkan masa depan, dan para lansia yang mencoba bertahan di tengah keterbatasan. Bagi Abati Mukhtar, kehadiran di tengah mereka adalah bentuk dakwah paling nyata—dakwah bil hal

“Kadang warga tidak butuh ceramah panjang. Mereka butuh ditemani, didengarkan, dan diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian,” katanya lirih

Misi kemanusiaan ini juga memperlihatkan satu pelajaran penting: pengabdian tidak harus berkutat di struktural. NU hidup karena jaringan kulturalnya—dayah, pengajian, jamaah, dan relawan—yang bergerak dengan kesadaran, bukan sekadar instruksi. Abati Mukhtar adalah potret nyata dari NU kultural yang terus berdenyut.

Di sela-sela kesibukan menyalurkan bantuan, Abati Mukhtar tetap menghidupkan majelis-majelis kecil pengajian. Di tenda pengungsian, di rumah warga yang masih berdiri, atau di sudut-sudut desa yang tersisa, ia dan sahabat-sahabatnya mengajak masyarakat berdoa dan menguatkan hati. Bagi mereka, bantuan materi harus berjalan seiring dengan penguatan spiritual.

Abu Sibreh sendiri mengapresiasi gerak cepat dan ketulusan para relawan Nahdliyyin ini. Ia menilai kehadiran figur-figur seperti Abati Mukhtar juga warga nahdhiyyin lainnya menunjukkan bahwa NU Aceh memiliki modal sosial yang kuat untuk bangkit bersama umat.

“Inilah wajah NU yang sesungguhnya—hadir, peduli, dan menyatu dengan rakyat,” ujarnya dalam salah satu kesempatan.

Abu Sibreh menegaskan bahwa dengan kondisi seperti saat ini tujuan kita terutama warga nahdliyin untuk membantu masyarakat yang tertimpa musibah dibawah panji Nahdlatul Ulama tanpa embel-embel politik.

“Saat ini simpan dulu kepentingan politik tapi hajat kemanusiaan lebih utama dan menginstruksikan warga NU mari bersama-sama berkontribusi dan bersinergi membantu korban musibah banjir bandang dan longsor baik dengan donasi sumbangan, tenaga, pikiran dan doa serta lainnya, ” pintanya.

Bagi Abati Mukhtar, kepercayaan Ketua PWNU Aceh bukan sekadar mandat organisasi, tetapi amanah moral yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Ia memilih menjalani misi ini dengan penuh kehati-hatian, memastikan bantuan tidak sekadar habis dibagi, tetapi benar-benar meringankan beban warga.

Di tengah lumpur, tenda darurat, dan wajah-wajah yang masih menyimpan trauma, langkah Abati Mukhtar dan sahabat-sahabatnya menjadi bukti bahwa pengabdian tak pernah mengenal kata selesai. Jabatan boleh berganti, struktur bisa berubah, tetapi khidmah kepada umat harus terus berjalan.

Dan di Aceh Utara hari ini, kisah Abati Mukhtar mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: menjadi Nahdliyyin sejati bukan soal posisi, melainkan keberanian untuk hadir dan melayani—kapan pun dan di mana pun dibutuhkan. []