Umum  

Air Mata Panglima di Tengah Bencana: Kisah Jujur Muzakir Manaf di Mata Najwa

Gubernur Aceh Muzakir Manaf saat di wawancarai Najwa Shihab di Pondopo Gubernur Aceh 7 Desember 2025

LENSAPOST.NET – Malam itu, 7 Desember 2025, dinginnya Pendopo Gubernur Aceh terasa menusuk. Di sana, di tengah keheningan yang seharusnya sakral, Najwa Shihab duduk berhadapan dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Jauh dari hingar bingar Jakarta, tanpa protokol yang biasa membentengi, Mualem tampak rapuh sekaligus perkasa. Ia bukan sedang diuji oleh politik, melainkan oleh takdir.

Mualem, yang dikenal tangguh sebagai mantan kombatan Gerakan Aceh Mardeka (GAM), kini duduk sebagai seorang pemimpin yang hatinya sedang rapuh. Hal itu semua ia sampaikan dalam perbincangan intim dengan jurnalis Najwa Shihab yang ditayangkan di kanal YouTube Narasi TV. Momen digital ini membawa kejujuran yang menembus layar, menjadikan pengakuan Mualem tontonan yang menghancurkan hati jutaan pemirsa.

Ketika Najwa mulai bertanya tentang skala bencana, pria dengan ciri khas brewokannya tersebut tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, menunduk, seolah sedang menghitung nyawa dan memori yang hilang.

Kemudian, dengan tatapan kosong, ia mulai bercerita. Itu adalah kisah tentang kehilangan total, bukan hanya harta, melainkan keberadaan.

Mualem sempat terlihat terdiam beberapa saat dan menunduk sebelum menitihkan air matanya dan bercerita bahwa kampung Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara hingga Bireun hilang disapu banjir bandang hingga longsor yang terjadi pada pekan lalu.

“Ada beberapa kampung hilang entah kemana pak, yaitu Sawang dan Jambo Aye, kemudian Bireun Peusangan. Malam itu empat kampung juga tak tau entah kemana,” katanya dengan suara tercekat.

Kata-kata “hilang entah kemana” adalah epitaf paling tragis. Di situlah air mata Mualem pecah. Ia adalah pemimpin yang harus menghadapi kenyataan bahwa empat desa lenyap ditelan bumi.

Maka, ketika ia melanjutkan dengan permohonan yang penuh duka, itu bukan lagi sekadar pidato politik:

“Saya pada prinsipnya hanya berusaha, hanya berdoa, semoga bantuan-bantuan dapat ada di Aceh, dapat orang tolong di Aceh, seperti itu, maaf,” suaranya tercekat sambil mengeluarkan air mata, penuh permohonan.

Momen itu adalah puncak dari Kepemimpinan Empatik (Empathic Leadership). Mualem membiarkan dirinya merasa sakit bersama rakyatnya, menunjukkan bahwa ia adalah manusia biasa yang terbebani oleh skala bencana yang melampaui kemampuan manusia.

Kepedihan Mualem semakin mendalam ketika ia menceritakan kontras bantuan. Ia harus menghadapi birokrasi kaku dari pusat yang menghambat bantuan asing masuk. Namun, ia tidak sendiri. Ada uluran tangan yang tulus dari dunia yang berhasil menembus celah-celah awal bencana.

Mualem menyeka air matanya dengan tisu, matanya memancarkan rasa syukur yang melampaui kata-kata. “Mereka tidak bantu Sumatra, tapi bantu Aceh, mengirimkan bantuan bertruk-truk. Mereka bantu Aceh,” ucapnya.

Ia adalah pemimpin yang berterima kasih dengan hati bersih, melihat bantuan ini sebagai anugerah, bukan intervensi, sebuah ciri Kepemimpinan Transformatif yang memprioritaskan nyawa di atas segalanya.

Namun, empati itu berubah menjadi amarah yang suci ketika ia menceritakan penderitaan riil di lapangan—mayat-mayat yang masih terjebak di mobil rusak di Aceh Tamiang. Di tengah horor ini, ia mendapati ada “bupati cengeng” yang lari dari tanggung jawab.

Kemarahan Mualem tertuju pada “bupati cengeng” yang “lari di Medan-lah, Karoeke-lah,” teriaknya, tegas dan menusuk.

Bagi Mualem, seorang pemimpin rakyat harus menunjukkan hati yang tulus dan bersih saat rakyat membutuhkan. Ia menuntut Akuntabilitas Moral dari jajarannya. Ultimatumnya agar bupati yang tak sanggup ‘balik kanan’ adalah sumpah serapah seorang Pelayan Rakyat Sejati (Servant Leader).

Saat ini, Mualem tidak menunggu laporan di Pendopo. Bersama jajaran intinya—Wagub, Sekda, dan bahkan didampingi sang istri yang ikut menyalurkan bantuan—ia terus berkeliling Aceh, memastikan mata air kehidupan rakyatnya tidak berhenti mengalir.

Mualem membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu terlihat kuat; kekuatan terbesar adalah saat ia berani menangis di hadapan rakyatnya, dan menggunakan air mata itu sebagai bahan bakar untuk melayani.

Air mata seorang pemimpin lebih lantang daripada pidato manapun

Tangis Muzakir Manaf di hadapan Najwa Shihab adalah salah satu momen langka ketika politik kembali menjadi manusiawi, dan kekuatan seorang pemimpin justru berada dalam tangisan. Mualem, melalui dukanya yang terekam kamera, telah mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati diukur bukan dari seberapa banyak janji yang ditepati, melainkan dari seberapa dalam hati nurani terhubung dengan penderitaan rakyat. Ia adalah pemimpin yang menangis karena sayang, dan memimpin dengan hati.