ACEH  

Didanai PTNBH USK, Tim Dosen Kembangkan Sistem Informasi Gampong (SIGAP) untuk Wujudkan Smart Village di Luthu Lamweu

Tim dosen USK berhasil mengimplementasikan Sistem Informasi Gampong (SIGAP) di Gampong Luthu Lamweu, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar

LENSAPOST.NET – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat tata kelola pemerintahan desa berbasis teknologi digital.

Kali ini, tim dosen USK berhasil mengimplementasikan Sistem Informasi Gampong (SIGAP) di Gampong Luthu Lamweu, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, yang menjadi salah satu langkah nyata menuju terwujudnya konsep Smart Village di Provinsi Aceh.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Gampong Binaan yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala melalui dana PTNBH Tahun Anggaran 2024. Tim pelaksana pengabdian diketuai oleh Al Bahri, S.ST., M.T., dosen Departemen Teknik Elektro dan Komputer, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, dengan anggota Safrizal, S.T., M.T., dan Maimun, S.Pd., M.A..

SIGAP dikembangkan sebagai sistem informasi berbasis web yang dirancang untuk mengintegrasikan data kependudukan, administrasi, serta layanan publik di tingkat gampong secara digital dan real-time. Melalui sistem ini, perangkat desa dapat melakukan pengelolaan data dengan lebih efisien, cepat, dan akurat dibandingkan dengan sistem manual yang sebelumnya digunakan.

Sebelum diterapkan, pendataan di Gampong Luthu Lamweu dilakukan secara manual menggunakan aplikasi spreadsheet sederhana yang rawan kesalahan input, sulit diakses, serta memerlukan waktu lama untuk pembaruan data. Melalui implementasi SIGAP, seluruh data kependudukan kini dapat diakses langsung melalui platform digital yang aman, terpusat, dan transparan.

Ketua pengabdi, Al Bahri, menjelaskan bahwa implementasi SIGAP dilakukan melalui serangkaian tahapan yang sistematis dan partisipatif, meliputi analisis kebutuhan, perancangan struktur data, integrasi sistem, validasi informasi, serta pelatihan kepada perangkat gampong dan operator. Pendekatan ini memastikan teknologi yang diadopsi dapat disesuaikan dengan kondisi lokal dan kebutuhan masyarakat desa.

“SIGAP bukan hanya sistem informasi, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya digital di tingkat gampong. Melalui sistem ini, perangkat desa dapat memberikan pelayanan publik dengan lebih cepat, transparan, dan berbasis data,” ungkap Al Bahri.

Hasil evaluasi yang dilakukan tim menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap berbagai aspek pelayanan publik di Gampong Luthu Lamweu setelah implementasi SIGAP. Berdasarkan survei terhadap masyarakat, kemudahan akses data kependudukan meningkat sebesar 21 persen, diikuti dengan peningkatan transparansi administrasi desa sebesar 20 persen, dan peningkatan literasi digital masyarakat juga mencapai 20 persen.

Sementara itu, indikator lain seperti kecepatan layanan administrasi dan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pembangunan desa juga menunjukkan peningkatan positif. Secara keseluruhan, seluruh indikator menunjukkan tren perbaikan yang signifikan, menandakan bahwa transformasi digital melalui SIGAP diterima dengan baik oleh masyarakat.

Temuan ini memperlihatkan bahwa SIGAP mampu menjawab tantangan utama dalam tata kelola desa, seperti keterbatasan akses informasi, rendahnya efisiensi pelayanan, dan kurangnya transparansi dalam proses administrasi. Melalui sistem ini, setiap warga dapat memperoleh informasi kependudukan dan layanan desa dengan lebih mudah, sementara perangkat desa memiliki dasar data yang kuat untuk pengambilan keputusan.

Keuchik Gampong Luthu Lamweu, Jafaruddin, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Syiah Kuala atas dukungan dan pendampingan yang diberikan dalam mewujudkan transformasi digital di desanya.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim dosen USK yang telah menghadirkan SIGAP di gampong kami. Sistem ini memudahkan masyarakat dalam pengurusan administrasi dan membantu perangkat desa bekerja lebih cepat dan transparan,” ujar Jafaruddin.

“Selain mempercepat layanan, SIGAP juga menjadikan data kami lebih tertata, aman, dan mudah diakses kapan saja. Ini merupakan langkah besar menuju tata kelola gampong yang modern,” tambahnya.

Implementasi SIGAP juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa mampu menciptakan inovasi yang relevan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan literasi digital dan pelatihan penggunaan sistem bagi perangkat gampong.

Keberhasilan implementasi SIGAP di Gampong Luthu Lamweu menjadikannya sebagai contoh praktik baik (best practice) yang dapat diadaptasi oleh gampong lain di Aceh maupun daerah lain di Indonesia. Sistem ini dianggap mampu mendukung prinsip Smart Village dengan mengedepankan transparansi, efisiensi, dan partisipasi masyarakat.

Dalam jangka panjang, SIGAP diharapkan dapat terus dikembangkan dengan menambahkan fitur analitik, integrasi data sosial-ekonomi, serta layanan publik digital lain seperti administrasi kependudukan daring, pelaporan masyarakat, dan pengelolaan keuangan desa.

Ketua tim pengabdi menambahkan bahwa keberhasilan program ini menjadi bukti nyata bahwa desa-desa di Aceh memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi desa cerdas melalui adopsi teknologi yang tepat guna.

“Kami berharap pengalaman di Luthu Lamweu dapat menjadi inspirasi bagi desa lain untuk mulai beralih ke sistem digital. Dengan tata kelola yang berbasis data, desa akan lebih siap menghadapi tantangan pembangunan di era digital,” tutup Al Bahri.