LENSAPOST.NET– Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tak hanya merendam rumah, tetapi juga mengancam kesehatan dan menghambat akses pendidikan warga.
Menanggapi kondisi darurat ini, Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Aceh, bekerja sama dengan Apoteker Tanggap Bencana PP IAI, Rumah Amal Masjid Jamik USK dan Ikatan Alumni Kedokteran Universitas Malikussaleh, menjalankan aksi tanggap darurat berupa penyaluran bantuan logistik dan pelayanan kesehatan gratis di empat desa terdampak.
Aksi kemanusiaan ini menyasar dua desa di Kabupaten Aceh Tamiang, yaitu Desa Sekumur, Pematang Durian, Kecamatan Sekerak, dan dua desa di Kabupaten Aceh Timur, yakni Desa Batu Sumbang dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih. Kondisi medan yang berat dan akses yang terputus akibat banjir menjadi tantangan tersendiri bagi tim relawan.
Perjalanan menuju lokasi membutuhkan perjuangan ekstra. Untuk mencapai Desa Sekumur, tim harus menyeberangi sungai yang airnya masih tinggi. Sementara itu, perjalanan ke Desa Rantau Panjang ditempuh melalui jalur sungai dengan waktu tempuh hingga dua jam. Meski demikian, semangat tim tak surut. Kedatangan mereka disambut antusias oleh warga setempat, yang bahkan turun tangan membantu mengangkut logistik dari perahu.
Bantuan logistik yang disalurkan meliputi peralatan sekolah untuk mendukung anak-anak kembali belajar, sembako, makanan instan, serta pakaian layak pakai. Sementara itu, layanan kesehatan gratis difokuskan untuk menangani penyakit-penyakit yang umum diderita pascabanjir, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gangguan pencernaan (diare, tifoid), infeksi kulit, demam berdarah dengue (DBD), dan penyakit yang diperburuk oleh kondisi stres serta keterbatasan obat.
Yang menjadi perhatian khusus dalam aksi ini adalah pemulihan psikologis anak-anak. Tim yang dipimpin oleh Apoteker Tati Rahmawati menyelenggarakan sesi trauma healing melalui berbagai permainan edukatif, menyanyi bersama, menggambar, dan kegiatan kelompok yang dipandu relawan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan keceriaan, mengurangi kecemasan, dan membantu anak-anak memproses pengalaman traumatis akibat banjir secara sehat. Tawa riang dan antusiasme anak-anak selama sesi berlangsung menjadi pemandangan yang menghangatkan di tengah reruntuhan.
“Bencana tidak hanya merusak rumah, tetapi juga meninggalkan luka di hati anak-anak.
Trauma healing menjadi ruang aman bagi mereka untuk kembali tertawa, merasa dicintai, dan percaya bahwa mereka tidak sendiri. Melalui sentuhan empati, permainan, dan kebersamaan, kita membantu anak-anak menyembuhkan ketakutan mereka dan menumbuhkan kembali harapan di tengah puing-puing bencana”.
Ketua PD IAI Aceh, apoteker Tedy Kurniawan Bakri, M.Farm, yang mengkoordinasikan aksi, menyampaikan apresiasi dan harapannya, “Aksi kemanusiaan ini merupakan wujud nyata kehadiran profesi apoteker di tengah krisis, meski saya tidak dapat hadir langsung di lokasi, laporan dari tim yang menembus medan berat dan akses sungai yang sulit memberikan rasa bangga dan haru tersendiri.
Antusiasme warga serta senyum anak-anak yang kembali muncul menjadi penguat bagi kami bahwa upaya kecil yang dilakukan dengan tulus dapat memberi dampak besar. Kami berharap bantuan ini tidak hanya meringankan beban sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan kesehatan, martabat, dan harapan masyarakat pascabanjir,” ujarnya.
Koordinator Lapangan, Apoteker Annas, menceritakan pengalaman langsung di lapangan. “Perjalanannya sangat melelahkan, tetapi semua terbayar saat melihat senyum dan harapan di wajah warga, terutama anak-anak. Di Desa Sekumur dan Rantau Panjang yang kami tempuh melalui jalur sungai, warga langsung membantu kami menurunkan bantuan dari perahu.
Respon mereka terhadap kegiatan trauma healing sangat luar biasa. Anak-anak yang awalnya malu-malu dan murung, perlahan mulai bermain dan tertawa. Ini menunjukkan bahwa pemulihan jiwa sama pentingnya dengan pemulihan fisik.”
Kepala Desa Rantau Panjang, Said Ridwan, mewakili warga penerima manfaat, menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam. “Kami mewakili seluruh warga Rantau Panjang mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada tim yang turun hari ini (Minggu, 19 Januari 2026). Bantuan ini sangat tepat sasaran dan sangat kami butuhkan. Akses kami yang terbatas membuat bantuan dari luar sulit masuk. Kehadiran tim yang rela menempuh perjalanan dua jam lewat sungai benar-benar mengobati kepedihan kami. Semoga kerja sama seperti ini terus berlanjut,” tuturnya.
Aksi kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga menjadi stimulus bagi pemulihan psikologis dan sosial masyarakat di daerah terdampak banjir, mengingatkan mereka bahwa mereka tidak menghadapi kesulitan ini sendirian.












