LENSAPOST.NET – Yasir, salah satu pengurus koperasi di Gayo Lues, menyatakan kekecewaannya atas deportasi tiga warga negara asing (WNA) asal Prancis.
Menurutnya, WNA tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat Aceh, khususnya para pengusaha dan petani nilam, karena mereka berencana berinvestasi dalam pembangunan agroindustri nilam yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
“Kami sangat kecewa dengan situasi ini. Para WNA ini merupakan investor yang konsisten, dan mereka datang dengan tujuan untuk mendukung perkembangan industri nilam di Aceh. Tidak ada kaitannya dengan politik,” ujar Yasir saat diwawancarai oleh Lensapost.net di belakang Kantor Imigrasi, di Takengon, Kamis 10 Oktober 2024.
BACA JUGA:Tiga WNA di Gayo Lues Dideportasi ke Prancis
Yasir menjelaskan, deportasi tersebut terjadi setelah para WNA dianggap terlibat dalam politik lokal karena salah satu dari mereka mengacungkan jari telunjuk dan mengatakan “Nilam Aceh Number One in the World” (Nilam Aceh Nomor 1 di Dunia). Tindakan ini ditafsirkan sebagai dukungan terhadap salah satu pasangan calon dalam pemilihan lokal, yang menggunakan nomor urut satu.
“Mereka tidak tahu apa-apa tentang politik lokal, mereka datang ke sini murni untuk berinvestasi dalam sektor nilam, bukan untuk urusan politik,” lanjut Yasir. “Seharusnya kita bangga dan bersyukur karena ada investor yang tertarik dengan potensi Aceh, apalagi mencari investor itu tidak mudah.”
Yasir juga menegaskan bahwa jika setiap investor yang datang selalu dihadapkan dengan masalah seperti ini, maka sulit bagi Aceh untuk bangkit dan menarik investasi.
“Bagaimana Aceh bisa maju kalau setiap yang datang selalu dipermasalahkan? Apakah kita ingin tetap miskin selamanya?” tanya Yasir dengan nada prihatin.
Ia berharap pemerintah lebih bijak dalam menangani situasi seperti ini, dengan memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan tegas. “Kami mengikuti prosedur, tapi seharusnya prosedur itu disosialisasikan atau diawasi dengan baik, bukan tiba-tiba mereka dijemput seperti kriminal,” tutup Yasir.
Kata dia, dua dari tiga WNA tersebut diketahui sudah empat kali datang ke Aceh dan terus menunjukkan komitmen terhadap pengembangan industri nilam di wilayah itu.
LAPORAN: RAHMAT











