LENSAPOST.NET – Upaya pemerintah dalam mendorong swasembada pangan nasional terus mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk para petani di wilayah pedesaan. Di Gampong Maheng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, para petani mulai mengoptimalkan pengelolaan sawah tadah hujan sebagai langkah strategis meningkatkan produksi padi.
Optimalisasi sawah tadah hujan dinilai menjadi solusi efektif dalam menghadapi keterbatasan irigasi teknis, terutama di wilayah yang bergantung pada curah hujan. Program ini juga sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang mendorong pemanfaatan seluruh potensi lahan pertanian guna menjaga ketahanan pangan nasional.
Di Aceh Besar sendiri, sektor pertanian memiliki peran strategis sebagai salah satu penopang kebutuhan pangan daerah. Dengan luas lahan sawah yang mencapai puluhan ribu hektare dan produktivitas rata-rata 5–6 ton per hektare, daerah ini dinilai mampu berkontribusi besar terhadap ketersediaan beras di Aceh.
Petani di Gampong Maheng, Nasri (37), mengaku tantangan utama yang dihadapi petani adalah ketidakpastian cuaca. Dengan luas lahan pertanian sekitar 200 hektar, bersumber air tadah hujan serta debit air yang kurang merata sawah tadah huja juga berpotensi gagal panen, maka harus ada pengelolaan dengan baik.
“Kami berharap air bisa dikelola dengan baik, sawah tadah hujan ini sangat potensial untuk meningkatkan produksi padi. Disini hampir 98% masyarakat adalah petani. Namun tantangan kondisi lahan pertanian tadah hujan seperti ini, petani sering mengalami gagal panen jika air tidak dikelola dengan baik,” kata Nasri, saat ditemui di lokasi persawahan, Kamis (26/3/2026).
Selain itu, Nasri juga menilai bahwa semangat gotong royong antar petani menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut. Para petani saling bekerja sama dalam mengatur jadwal tanam dan pengelolaan air agar hasil yang diperoleh maksimal.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung swasembada pangan melalui peningkatan luas tambah tanam (LTT) serta optimalisasi lahan pertanian. Langkah ini dilakukan melalui sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan para petani di lapangan.
Program tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kesejahteraan petani melalui penyediaan teknologi, pelatihan, serta akses terhadap sarana produksi pertanian. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan sektor pertanian dapat berkembang secara berkelanjutan.
Para petani di Maheng pun optimistis bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sawah tadah hujan dapat menjadi andalan dalam mendukung ketahanan pangan, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional.
“Kalau semua petani serius mengelola lahannya, kami yakin swasembada pangan bisa tercapai. Kami di desa siap mendukung program pemerintah,” tutup Nasri.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, optimalisasi sawah tadah hujan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Dukungan dari petani seperti di Gampong Maheng menjadi bukti nyata bahwa swasembada pangan bukan sekadar program, melainkan gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.(**)












