Lensapost.net –Di bawah langit Gampong Padang Bakau, Kecamatan Labuhanhaji, Aceh Selatan yang merembang sore itu, sebuah babak baru baru saja dipahat di atas panggung demokrasi desa. Ahmad Samhudi, pemuda alumnus Universitas Teuku Umar (UTU) yang masih lajang, resmi terpilih menjadi Keuchik (Kepala Desa) setelah memenangkan kontestasi yang melelahkan hari ini. Dengan perolehan 289 suara, ia berhasil menumbangkan tiga rivalnya—sebuah kemenangan yang tidak hanya menguji elektabilitas, tetapi juga menjadi kompas ke mana arah masa depan desa pesisir di Aceh Selatan ini akan dibawa.
Kemenangan Samhudi bukan sekadar angka yang tertulis di atas kertas plano di tempat pemungutan suara. Bagi masyarakat Padang Bakau, ini adalah mandat bagi seorang intelektual muda untuk menavigasi desa di antara dua kutub yang sering kali berbenturan: ambisi mengeksploitasi potensi ekonomi laut yang menggiurkan dan kewajiban menjaga marwah adat yang sakral.
Harta Karun Aquamarine yang Terbelenggu Ironi
Bagi siapa pun yang mengamati garis pantai Padang Bakau dengan mata jeli, akan segera menyadari adanya “harta karun” yang selama ini hanya menjadi hiasan mata dan tempat mencuci kaki. Ialah Pantai SBB. Penelusuran data geografis menunjukkan pesisir ini memiliki karakteristik unik dengan substrat pasir putih halus dan kejernihan air yang memiliki tingkat penetrasi cahaya tinggi. Fenomena ini menciptakan gradasi warna aquamarine—sebuah ekosistem yang menyerupai lanskap pesisir premium di Bali Selatan atau pesisir Mandalika di Lombok.
Namun, di balik keindahan kristal itu, tersimpan ironi ekonomi yang menyesakkan. Berdasarkan analisis lapangan, kekayaan terumbu karang yang menawan dan hamparan pesisir yang bersih selama puluhan tahun belum mampu terkonversi menjadi nilai Pendapatan Asli Desa (PAD). Sebagai pemimpin yang membawa perspektif ekonomi pembangunan dari bangku kuliah, Samhudi memahami betul adanya multiplier effect yang tersumbat di sini.
Dalam kacamata ekonomi pembangunan, pantai yang indah tanpa zonasi kuliner yang tertata, tanpa penyediaan fasilitas perahu kaca (glass bottom boat), hingga tanpa manajemen persewaan alat snorkeling, hanyalah konsumsi visual yang mandul bagi kas desa. Padahal, jika Samhudi mampu mengintegrasikan modal alam ini dengan manajemen Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) yang profesional, Padang Bakau memiliki rasio pertumbuhan ekonomi yang bisa melampaui desa-desa wisata di Pulau Jawa. Secara alami, desa-desa di Jawa sering kali memiliki keterbatasan kualitas kejernihan air akibat sedimentasi sungai yang tinggi, namun mereka unggul dalam manajemen kapital. Inilah celah kompetitif yang ingin ditutup oleh Samhudi.
Revolusi Meritokrasi: Melawan Tradisi “Asal Tarok”
Namun, membangun fisik pantai adalah perkara mudah dibanding membangun sistem manusia. Langkah awal Samhudi dipastikan akan menjadi ujian integritas yang tidak populer bagi penganut cara-cara lama. Ia datang membawa misi “Revolusi Meritokrasi” dalam penataan aparatur desa—sebuah langkah yang berani sekaligus berisiko politik di tingkat akar rumput.
“BUMG dan perangkat desa akan saya tata dengan baik, sesuai skill. Tidak ada lagi praktik asal tarok,” tegas Samhudi dalam sebuah kesempatan dengan nada bicara yang terukur.
Pernyataan ini adalah antitesis tajam terhadap praktik nepotisme dan patronase desa yang selama ini menjadi “kanker” yang menghambat inovasi. Samhudi menyadari bahwa banyak sarjana dan pemuda perantau asal Padang Bakau yang kini sukses di perantauan, memiliki pengalaman mumpuni di sektor jasa dan pariwisata luar daerah.
Visi besarnya adalah memulangkan “otak-otak” cemerlang ini. Ia ingin mereka mengisi pos-pos strategis di desa, bukan karena kedekatan keluarga atau balas budi politik, melainkan karena kompetensi. Inilah inti dari pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ia tawarkan: mengubah struktur birokrasi desa yang kaku menjadi tim kerja yang kompetitif, lincah, dan modern layaknya perusahaan rintisan (startup).
Benteng Sosial di Tengah Ambisi “Wisata Islami”
Samhudi sadar betul bahwa ambisi ekonomi bisa menjadi pedang bermata dua, terutama di tanah Serambi Mekkah. Pariwisata seringkali dituding sebagai pintu masuk pergeseran nilai sosial. Untuk menjaga produktivitas wisata dari ancaman degradasi moral, ia telah menyiapkan benteng sosial yang kokoh. Harapan besar masyarakat kini bertumpu padanya untuk menyulap Pantai SBB menjadi destinasi “Wisata Islami” yang produktif namun tetap syar’i.
Ia berkomitmen memperkuat lembaga adat dan mukim, lengkap dengan sanksi tegas bagi mereka yang melanggar hukum adat desa. Lebih jauh, Samhudi diharapkan bisa menghadiran “Polisi Gampong” dan sistem patroli warga rutin. Tujuannya jelas: memastikan SBB tetap sejuk secara spiritual meski riuh secara ekonomi. Wisatawan boleh datang membawa devisa, tapi mereka harus pulang membawa hormat terhadap kearifan lokal Padang Bakau.
Niat Lillahi Ta’ala di Pundak Geuchik Lajang
Secara personal, sosok Samhudi membawa keunikan tersendiri yang jarang ditemukan pada pemimpin desa konvensional. Statusnya yang masih lajang justru dipandang warga sebagai modal sosial yang krusial. Tanpa beban domestik rumah tangga, ia dianggap memiliki kemewahan waktu untuk mewakafkan dirinya 24 jam penuh bagi kepentingan publik. Dari urusan administrasi surat-menyurat yang ia janjikan bebas pungutan, hingga urusan fardhu kifayah saat ada warga yang kemalangan, ia ingin membuktikan bahwa kepemimpinan muda adalah tentang pelayanan tanpa jeda.
“Kami bukan mencari pekerjaan dan kesenangan, tetapi ingin membangun Gampong dengan niat lillahi ta’ala,” tulisnya dalam penutup dokumen visi-misi yang kini menjadi kontrak sosial bagi 289 pemilihnya. Kalimat itu bukan sekadar pemanis retorika di musim pemilihan, melainkan janji suci yang akan ditagih warga setiap kali mereka melihat air biru di Pantai SBB.
Kini, di tangan sang “Geuchik Muda”, Padang Bakau sedang menanti fajar baru. Apakah biru bening Pantai SBB akan benar-benar berubah menjadi kesejahteraan yang bermartabat melalui tangan dingin seorang alumnus UTU, ataukah ia akan tergerus oleh badai birokrasi yang masih gemar bersembunyi di balik zona nyaman? Masyarakat telah memilih, dan Ahmad Samhudi telah berdiri di garis awal sebuah maraton panjang menuju kedaulatan desa.











