LENSAPOST.NET – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat menilai pembangunan kolam retensi merupakan salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir kota atau genangan yang kerap terjadi di Meulaboh.
Kepala Dinas PUPR Aceh Barat, Kurdi mengatakan, pembangunan kolam retensi atau kolam penampungan air tersebut dinilai sangat efektif dalam mengatasi banjir kota di Meulaboh yang selama ini sering terjadi.
“Kita belajar di kota – kota yang pernah mengalami bencana (banjir kota) dan tidak memiliki ruang lebar untuk mengaliri air yang tergenang. Jadi rata-rata konsepnya adalah kolam retensi (menangani banjir kota),” kata Kurdi, Rabu (3/1).
Untuk pembangunan kolam retensi sebut Kurdi memang membutuhkan biaya besar serta lahan yang luas. Akan tetapi untuk lahan pihaknya berencana akan menggunakan suak atau muara Ujong Kalak sehingga kebutuhan akan lahan dapat teratasi.
“Sekarang konsep lahannya kita tidak perlu pengadaan karena kita menggunakan lokasi Suak Ujong Kalak. Selama ini kan Suak Ujong Kalak di belah kalau hujan (agar air mengalir ke laut), nanti setelah adanya kolam retensi tentu ada konsep-konsep dimana air yang sudah meluap akan disalurkan atau diteruskan ke laut secara otomatis,” katanya.
Dikatakan Kurdi, selain sebagai solusi jangka panjang penanganan banjir kota, kolam retensi tersebut nantinya juga dapat dimanfaatkan sebagai lokasi ataupun destinasi wisata bagi masyarakat.
“Jadi Desa Batu Putih (lokai Suak Ujong Kalak) itu lokasi wisata yang infrastrukturnya sedang kita tangani, nanti di bawah jembatan Suak Riba akan ditata menjadi daerah wisata dan kolam penampungan atau retensi,” ujar Kurdi.
Kurdi menjalankan, anggaran yang diperlukan untuk pembangunan kolam retensi dan juga sarana dan prasarana pendukung lainnya seperti jalan menuju ke lokasi tersebut mencapai miliaran rupiah.
“Untuk kolam retensinya saja itu butuh Rp 8 miliar, sedangkan untuk sarana dan prasarana ini sedang kita bangun kemudian tahun depan jalan dua jalurnya sampai ke tugu Kupiah Meukutop itu Rp 3 miliar dan nanti untuk pejalan kaki Rp 1 miliar (jalur untuk pejalan kaki), kolam retensi nya ada di ujungnya itu,” ujarnya.
Untuk saat ini sebut Kurdi, pihaknya sedang fokus untuk pembangunan infrastruktur serta penataan sarana dan prasarana pendukung yang ada di darat seperti jalan menuju lokasi kolam retensi dan lokasi wisata di daerah tersebut.
‘Tapi kan prinsipnya kita tata dulu didarat, kita buat yang bagus wisata kulinernya agar lebih menarik kemudian tahun depan tugu Kupiah Meukutop nya kita cat ulang termasuk pedestrian jalan sampai dengan jembatan Emisasmita, kita mulai dari darat dulu baru masuk ke ujungnya itu kolam retensi,” sebut Kurdi.
Tahun ini kata Kurdi pihaknya sedang menyusun konsep rancangan bangunan rinci atau Detail Engineering Design (DED) dan ada beberapa tahapan lagi yang harus dilakukan sampai dengan kolam retensi tersebut siap untuk mulai dibangun.
“Karena tahun ini kan masih konsep DED nya jadi tahun depan setelah kita bengun infrastruktur kan perlu FGD, Sosialisasi, Diskusi dan sebagainya kemudian juga perlu audiensi dengan DPRK kan perlu pembicaraan yang lebih panjang untuk tahapan itu,” sebutnya.
Sehingga sembari menunggu seluruh tahapan yang diperlukan selesai maka pihaknya akan terlebih dahulu membenahi seluruh sarana dan prasarana pendukung yang ada di darat dengan menganggarkan dana sebesar Rp 4 miliar pada tahun depan.












