Kader Mulai Gerah, Wantim Golkar Abdya: Jangan Jadikan Partai Jembatan Patah

DOK. GOLKAR

LENSAPOST.NET – Partai Golkar Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tengah diselimuti kisah menarik di balik perayaan hari jadinya yang ke-61.

Meski di ruang publik tampak semarak dengan berbagai kegiatan, namun di internal partai berlambang pohon beringin itu, aroma ketegangan mulai tercium.

Sejumlah kader dikabarkan mulai gerah dengan manajemen partai yang dinilai semakin tidak transparan. Keluhan kader pun mencuat ke permukaan, menampar persepsi publik yang selama ini menganggap Golkar Abdya baik-baik saja.

H Rs Darmansyah, selaku Dewan Pertimbangan (Wantim) Partai Golkar Abdya, angkat bicara terkait munculnya opini percepatan Musda dan tudingan tentang buruknya manajemen partai yang sempat diberitakan media.

Menurutnya, kisruh internal tersebut muncul akibat tersumbatnya arus informasi di tubuh partai.

“Harusnya keterbukaan informasi menjadi ciri khas Golkar sejak dulu. Semua informasinya bisa diakses kapan pun oleh publik,” ungkap Darmansyah, Jumat (31/10/2025).

Ia menilai, kurangnya transparansi menyebabkan munculnya rasa curiga di antara kader.

“Mungkin ini lah penyebab kecemasan kader kita—tidak adanya keterbukaan dari pimpinan dengan anggota. Akhirnya timbul saling curiga dan menduga ada hal yang tidak wajar,” tambahnya.

Meski demikian, Darmansyah menegaskan pihaknya tidak ingin kondisi ini terus berlarut. Sebagai Wantim, ia berjanji akan mendinginkan suasana dengan mengajukan sejumlah pertanyaan resmi kepada pimpinan partai.

“Kita tidak akan membiarkan kondisi ini merusak masa depan partai. Jangan sampai Golkar menjadi jembatan patah. Golkar itu harus menjadi jalan yang mudah bagi generasi selanjutnya,” tegasnya.

Sekretaris DPD II Golkar Abdya: No Comment

Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah melalui sambungan telepon WhatsApp, Sekretaris DPD II Partai Golkar Abdya, Mukhlis MS, enggan memberikan banyak komentar.

Saat disinggung soal isu percepatan Musda dan tudingan manajemen partai yang buruk, Mukhlis menjawab singkat.

“Wah Ustadz, no comment soal itu. Mungkin ketua yang lebih berkompeten untuk menjawabnya. Sebaiknya coba dikonfirmasi langsung kepada ketua,” ujarnya menutup pembicaraan.