Setiap insan pada dasarnya merupakan hamba. Pertanyaannya: ia menjadi hamba siapa, atau hamba apa? Jika seseorang menundukkan dirinya pada hawa nafsu, ia sejatinya hamba nafsu. Jika ia mengikat dirinya pada jabatan dan kekuasaan, ia hamba dunia. Tetapi jika ia menyerahkan sepenuhnya jiwa-raga kepada Allah, ia adalah hamba kebenaran sejati.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
> أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ayat ini menegaskan bahwa tidak semua penghambaan itu lurus. Ada yang terjerumus pada penghambaan palsu: kepada hawa nafsu, kedudukan, manusia, atau harta. Padahal kemuliaan manusia justru lahir ketika ia menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar dan kebenaran sebagai jalannya.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis: “Ketahuilah, dunia ini ibarat bayangan. Jika engkau mengejarnya, ia akan lari darimu. Tetapi jika engkau berpaling darinya, ia akan mengejarmu. Maka jangan jadikan dunia sebagai tujuan, sebab ia hanyalah kendaraan menuju akhirat.”
Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa jabatan, harta, dan kekuasaan hanyalah bayangan yang fana. Bila kita menjadikannya tujuan, kita akan lelah mengejar tanpa pernah puas. Tetapi bila kita memalingkan hati darinya, dunia justru akan datang dengan sendirinya.
Banyak manusia yang terjebak pada ilusi jabatan. Mereka begitu takut kehilangan kedudukan, sehingga rela menggadaikan prinsip dan kebenaran. Ada yang lebih taat pada perintah atasan daripada perintah Allah. Ada pula yang menutup mata terhadap kebatilan karena khawatir kariernya terganggu.
Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan:
> كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jabatan bukanlah mahkota kebanggaan, melainkan amanah yang kelak akan ditanya di hadapan Allah. Seorang pemimpin tidak ditanya berapa lama ia menjabat, melainkan seberapa amanah ia menjaga rakyatnya. Seorang pegawai tidak ditanya seberapa setia ia kepada atasannya, tetapi seberapa jujur ia dalam bekerja.
Imam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari memberi hikmah dalam al-Hikam: “Janganlah engkau bergembira karena ketaatan yang lahir darimu, tetapi bergembiralah karena Allah menjadikanmu sebagai pelakunya. Dan janganlah engkau bersedih karena hilangnya kedudukan, sebab kedudukan itu tidak pernah kekal bagimu.”
Kalam ini mengajarkan bahwa jabatan dan kedudukan bukanlah sumber kebahagiaan. Yang menjadi kemuliaan adalah ketika Allah masih memberi taufik kepada kita untuk menegakkan kebenaran di posisi mana pun kita berada.
Keteguhan Rasulullah SAW dan Para Sahabat
Menjadi hamba kebenaran berarti berpegang teguh pada yang haq meskipun dunia menentang. Rasulullah SAW adalah teladan paling agung dalam hal ini. Ketika kaum Quraisy menawarkan harta, tahta, dan wanita agar beliau menghentikan dakwah, jawabannya sangat tegas:
“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, tidak akan aku tinggalkan hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”
Inilah sikap seorang hamba kebenaran: teguh pada prinsip, tidak tergiur oleh iming-iming dunia.
Para sahabat pun mengikuti jejak beliau. Abu Dzar al-Ghifari, sahabat yang dikenal zuhud, pernah menegur penguasa dengan lantang: “Aku mencintaimu karena Allah, tetapi aku membencimu karena dunia yang engkau kumpulkan.”
Sikap berani ini lahir dari iman yang kuat. Mereka tahu bahwa ridha Allah lebih berharga daripada ridha manusia. Nabi SAW bersabda:“Barang siapa yang mencari ridha Allah meskipun manusia marah, niscaya Allah akan meridhainya dan membuat manusia pun ridha kepadanya. Tetapi barang siapa yang mencari ridha manusia dengan murka Allah, niscaya Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya.” (HR. Ibn Hibban).
Hadis ini menegaskan: keberanian berkata benar di hadapan siapa pun adalah kunci kemuliaan, sedangkan mencari ridha manusia dengan menggadaikan kebenaran hanya berakhir pada kehinaan.
Kita hidup di era fitnah, di mana kebenaran sering tertutupi oleh kepentingan, dan kebatilan dipoles agar tampak indah. Dalam kondisi ini, menjadi hamba kebenaran adalah tantangan besar.
Namun Rasulullah SAW memberikan tuntunan:“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).
Kalimat ini menegaskan bahwa keberanian memperjuangkan kebenaran, meski penuh risiko, adalah bentuk ibadah yang sangat mulia.
Imam al-Ghazali memberi nasihat yang relevan: “Ketahuilah, keberanian yang sejati bukanlah pada kekuatan fisik, melainkan pada kemampuan menahan diri dari hawa nafsu dan teguh dalam kebenaran.”
Hamba kebenaran di zaman ini tidak hanya dituntut berani bersuara, tetapi juga berani menolak godaan duniawi yang melemahkan iman. Ia mungkin seorang pegawai yang tetap jujur meski ada peluang korupsi. Ia bisa jadi pedagang yang tetap adil dalam menimbang meski pembeli tidak memperhatikan. Ia bisa jadi pemimpin yang rela kehilangan popularitas demi menegakkan keadilan.
Imam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari kembali mengingatkan: “Janganlah engkau merasa takut kehilangan sesuatu yang duniawi, sebab tidak ada sesuatu yang lebih hina daripada dunia yang engkau perebutkan. Carilah Allah, niscaya engkau mendapatkan segalanya.”
Meraih Kemuliaan dengan Kebenaran
Kehidupan dunia hanyalah singkat. Jabatan datang dan pergi, harta naik turun, kekuasaan silih berganti. Tetapi kebenaran tetap abadi. Orang yang menghambakan diri pada kebenaran akan dikenang dengan hormat, meski tanpa kursi jabatan. Sebaliknya, orang yang hidup sebagai budak jabatan akan dilupakan, bahkan dicaci setelah kuasanya berakhir.
Imam Syafi’i pernah berkata:“Barang siapa mencari ridha Allah dengan murka manusia, Allah akan mencukupkannya dari manusia. Dan barang siapa mencari ridha manusia dengan murka Allah, Allah akan menyerahkannya kepada manusia.”
Kalimat ini seakan menutup hikmah dari perjalanan hidup kita: kemuliaan sejati lahir dari ketaatan kepada Allah dan kesetiaan pada kebenaran. Tidak perlu takut kehilangan kedudukan, sebab rezeki bukan di tangan atasan. Tidak perlu silau pada gemerlap dunia, sebab yang dicari adalah wajah Allah.
Hiduplah sebagai hamba kebenaran, bukan hamba jabatan atau atasan. Karena jabatan bisa berganti, atasan bisa berpindah, harta bisa habis, tetapi kebenaran tetap tegak. Barang siapa menjadikan kebenaran sebagai tuannya, ia akan mulia di dunia dan bahagia di akhirat.
Imam al-Ghazali mengingatkan: “Dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Hakikat hidup adalah ketika engkau dekat dengan Allah. Maka jangan biarkan kedudukanmu melalaikanmu dari kebenaran.”
Lebih lanjut Imam Ibn ‘Athaillah pun berpesan: “Janganlah engkau menatap apa yang hilang darimu, tetapi tataplah apa yang Allah karuniakan kepadamu. Dan sebaik-baik karunia adalah istiqamah di jalan kebenaran.
Beranjak dari paparan di atas, semoga kita diberi kekuatan untuk istiqamah dalam kebenaran, berani berkata benar di hadapan siapa pun, dan tidak tunduk pada selain Allah. Lantas sudahkah kita meniti kehidupan sebagai khalifah menjadi hamba-Nya?
Wallahu Musta’an Ila Daris Salim
Tgk Fakhruddin, M Sos (Abati Paymam)
Alumni Dayah MUDI Samalanga dan Pimpinan Dayah Nurul Huda Paya Demam Lhee serta Penyuluh KUA Kemenag Kabupaten Aceh Timur












