LENSAPOST.NET – Bencana banjir dan banjir bandang yang meluluhlantakkan beberapa wilayah di Aceh Tenggara (Agara) belum sepenuhnya pulih. Ratapan kesedihan musibah kian menyisakan luka serta trauma bagi korban terdampak.
Ribuan Kepala Keluarga terdampak akibat banjir di Agara. Tak sedikit dari mereka kehilangan harta benda, rumah, mata pencarian hingga nyawa sanak keluarga yang tewas terseret dan tertimbun banjir bandang.
Amatan, pascabanjir di beberapa wilayah Kecamatan yaitu Kecamatan Bambel, Babussalam, Lawe Alas, dan beberapa Kecamatan lainnya di Aceh Tenggara memperlihatkan situasi mencengangkan soal harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dijual oleh pengencer.
Dimana dalam kondisi duka seperti ini, masih ada saja segelintir oknum memanfaatkan situasi untuk meraup pundi-pundi keuntungan dengan cara yang terkesan tak bermoral. Secara seenaknya menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite maupun Pertamax eceran dengan harga diluar nalar.
Hampir di seluruh penjuru wilayah tersebut ditemui harga jual BBM jenis Pertalite maupun Pertamax yang di kemas dalam botol bekas Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) untuk ukuran satu liter di jual berkisar antara Rp20-25 ribu. Harga itu jelas diatas harga Harga Eceran Tertinggi (HET) Pemerintah.
“Sudah terjatuh tertimpa tangga”. Usai Dilanda banjir dan banjir bandang kini stabilitas ekonomi warga Agara digilas mahal dan meroketnya harga BBM eceran oleh oknum pengencer.
Pantauan, dalam beberapa hari belakangan ini penyaluran pasokan BBM di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di Kabupaten Aceh Tenggara ini terpantau lancar. Namun, antrian kendaraan terus “mengular” di setiap harinya.
Terpisah, Bupati Aceh Tenggara, H.M Salim Fakhry baru baru ini menegaskan agar jangan ada lagi oknum yang melakukan penimbunan BBM. Baik itu dengan menggunakan tangki modifikasi dan modus lain sebagainya.
Bupati menghimbau agar masyarakat tak perlu panik karena pendistribusian BBM di Aceh Tenggara lancar. “Katanya BBM langka ?, BBM tidak langka, BBM lancar di Aceh Tenggara,” kata Fakhry,
Bupati juga menegaskan bagi oknum-oknum bermain BBM agar berhenti melakukan tindakannya.
“Yang selalu mengoplos minyak berhentikan semua ini akan bertentangan nanti dan akan berhadapan dengan Aparat Penegak Hukum di Kabupaten Aceh Tenggara,” tegas Bupati.
Pernyataan Bupati itu seolah menggambarkan persoalan sulitnya BBM menjangkau masyarakat luas bukan karena pasokan BBM yang langka. Melainkan diduga kuat ada permainan nakal yang dimainkan oleh oknum oknum tertentu demi meraup keuntungan ditengah situasi bencana.
Sementara itu, menyoal keresahan warga terkait meroketnya harga jual BBM eceran dijual oleh oknum -oknum pengencer di Aceh Tenggara pihak kepolisian setempat dikabarkan telah terjun kelapangan dengan mendatangi beberapa oknum pengencer BBM.
Menanggapi hal itu, berbagai elemen masyarakat menilai penindakan atau tindaklanjut dari aparat penegak hukum setempat atas keresahan masayarakat soal ulah pengencer BBM yang menggilas stabilitas ekonomi warga Aceh Tenggara terkesan seremonial.
“Penindakan apa itu, hanya terkesan seremonial tidak tegas, kalau ada ditemukan kenapa tidak diamankan, karena mereka sudah meresahkan” kata Noris Ellyfian Warga Kota Kutacane, Aceh Tenggara, Sabtu (6/12/2025).
Ia menuding perbuatan oknum pengencer menjual BBM di atas HET adalah perbuatan yang melanggar ketentuan dan hukum yang berlaku. Sehingga pihak aparat penegak hukum seharusnya bertindak tegas dalam menindaklanjutinya sesuai ketentuan dan hukum yang berlaku juga.
“Oknum pengencer yang seenaknya menaikan harga BBM kami anggap sudah mengilas ekonomi kami ditengah situasi bencana seperti ini,” keluhnya.
“Jangan di kasih hati mereka para oknum pengencer BBM yang tak punya hati, kalau terbukti melanggar hukum, tangkap buat efek jera,” tegasnya. []












