LENSAPOST.NET— Anggota DPR Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai Aceh, Salmawati, mengunjungi sejumlah titik terdampak bencana di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada Sabtu, 6 Desember 2025. Kondisi kehancuran yang ia saksikan langsung membuatnya mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan secara lebih serius dalam penanganan darurat dan pemulihan di Aceh.
Salmawati, yang akrab disapa Bunda Salma, mengungkapkan bahwa situasi di Langkahan “sangat memprihatinkan dan berada pada titik darurat kemanusiaan.” Ia menggambarkan bagaimana banjir bandang telah menghancurkan hampir seluruh permukiman warga.
“Di Langkahan ini sangat miris sekali. Warga tidak tahu harus berteduh di mana karena rumah mereka hancur semua dibawa banjir bandang. Sumber air bersih hilang, stok obat-obatan minim, dan tenaga medis juga sangat terbatas,” ujarnya.
Bunda Salma yang turun bersama Ketua Partai Aceh Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Jhony, memaparkan bahwa sedikitnya 70 persen rumah warga rata dengan tanah, menyisakan puing dan lumpur yang tinggi. Banyak warga kini bertahan di titik-titik pengungsian darurat tanpa perlengkapan memadai.
Warga setempat mengaku sudah beberapa hari tidur beralaskan terpal robek, tanpa selimut, dan tanpa sanitasi yang layak. Anak-anak mulai mengalami gejala demam dan diare karena air bersih sangat terbatas. Ibu-ibu menyusui kesulitan mendapatkan makanan bergizi dan kebutuhan khusus bayi, termasuk susu dan popok.
Di sejumlah gampong, hewan ternak mati tersapu arus deras, menyisakan kerugian ekonomi yang besar. Lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga juga tertimbun lumpur dan batu besar. Sementara itu, akses jalan masih terputus di beberapa titik, membuat distribusi logistik lambat.
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, Salmawati mendesak Pemerintah Pusat untuk segera mengirimkan tenda pengungsian berkapasitas besar, peralatan sanitasi, obat-obatan, serta tenaga medis tambahan.
“Ini sangat mendesak. Warga membutuhkan tenda besar agar bisa berteduh secara layak. Jangan sampai kita dipermalukan dunia internasional jika dianggap Pemerintah Pusat tidak mampu mengatasi bencana di Aceh,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi darurat yang melanda Aceh saat ini membutuhkan perhatian khusus dan keputusan cepat dari tingkat nasional. Menurutnya, mobilisasi alat berat, pembangunan pos kesehatan lapangan, serta percepatan bantuan logistik harus menjadi prioritas pemerintah pusat.
Bunda Salma menegaskan bahwa penderitaan masyarakat Aceh, khususnya di Langkahan tidak boleh dianggap sebagai bencana lokal semata, melainkan tragedi kemanusiaan yang menuntut respons nasional.
Warga yang ditemui mengaku hanya berharap satu hal, kehadiran negara secara nyata, bukan sekadar kunjungan simbolis. Banyak di antara mereka kehilangan rumah, harta benda, ladang, hingga anggota keluarga.
Seorang ibu bernama Fatimah, yang kini mengungsi bersama tiga anaknya, mengatakan bahwa mereka belum makan makanan panas selama tiga hari. Sementara seorang lansia bernama Abdullah terpaksa tidur di tanah berlumpur karena tidak ada tikar yang tersisa untuk dibawa dari rumahnya.
“Bencana ini bukan hanya merusak rumah, tetapi meruntuhkan masa depan ekonomi masyarakat Langkahan. Karena itu, kami sangat memohon perhatian khusus dari Pemerintah Nasional untuk Aceh,” tutup Salmawati.
Ia berharap Presiden Prabowo segera memerintahkan percepatan penanganan, termasuk penetapan status bencana nasional jika diperlukan, demi memaksimalkan dukungan lintas kementerian dan lembaga.[]












