LENSAPOST.NET — Lampion berwarna-warni menghiasi halaman SMA Negeri Unggul Tunas Bangsa, Aceh Barat Daya (Abdya). Karya tersebut dibuat langsung oleh para siswa dan dipasang pada setiap tiang lampu di lingkungan sekolah.
Bukan sekadar mempercantik halaman, pembuatan lampion menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik. Siswa dituntut menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kelas ke dalam sebuah karya yang dapat dinikmati bersama.
Kepala SMA Negeri Unggul Tunas Bangsa Abdya, Surya Fajriah, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk mengajarkan siswa agar mampu mengubah pengetahuan menjadi karya yang bermanfaat.
“Kami ingin siswa paham bahwa ilmu bukan untuk sekadar tersimpan di kepala, tetapi harus diwujudkan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Surya, Rabu (30 September 2026).
Menurut dia, proses pembuatan lampion juga melatih siswa menyusun rencana, memilih bahan, bekerja sama, serta menjaga ketelitian hingga menghasilkan karya.
Nilai-nilai tersebut, kata Surya, menjadi bagian penting dalam membangun pola pikir yang sistematis, sikap bertanggung jawab, dan kemampuan bekerja dalam tim.
“Kreativitas tanpa tindakan hanyalah angan. Kami ajarkan mereka mewujudkan ide menjadi karya, mengubah bahan sederhana menjadi sesuatu yang bernilai estetika sekaligus ekonomi,” katanya.
Dalam prosesnya, siswa juga dikenalkan pada aspek kewirausahaan. Mereka diajak menghitung biaya, menjaga kualitas, melihat peluang, dan memahami nilai ekonomi dari sebuah karya.
“Kami tanamkan: lihat peluang di sekitar, olah dengan kemampuan, berikan manfaat,” ujar Surya.
Lampion yang menghiasi lingkungan sekolah itu pada akhirnya tidak hanya menjadi dekorasi. Karya tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang mendorong kreativitas, kemandirian, kerja sama, dan jiwa kewirausahaan siswa.
Dari ruang belajar dan bahan sederhana, para siswa belajar bahwa sebuah gagasan dapat diwujudkan menjadi karya yang memiliki nilai bagi lingkungan.












