LENSAPOST.NET – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menjadi momentum refleksi perjalanan panjang daerah yang dikenal dengan julukan Nanggroe Breuh Sigupai atau Bumoe Ceurana, yang sarat dinamika dan perjuangan.
Abdya berdiri di atas fondasi perjuangan para pendahulu yang mengorbankan tenaga, pikiran, dan dedikasi tanpa pamrih. Gagasan pembentukan daerah ini bahkan telah muncul sejak tahun 1960-an, yang kala itu direncanakan bernama “Kesatria”. Setelah melalui proses panjang, akhirnya nama Aceh Barat Daya resmi disahkan melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002.
Bupati Abdya, Dr. Safaruddin, S.Sos., MSP dalam sambutannya menegaskan bahwa perjuangan pembentukan kabupaten tersebut bukanlah hal yang singkat dan mudah.
“Tidak sedikit tenaga dan pikiran yang terkuras. Bahkan tidak ada penghargaan apa pun yang cukup pantas untuk membalas jasa para tokoh pendiri daerah ini,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa peringatan HUT bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk merefleksikan perjalanan, menghormati perjuangan para pendahulu, serta meneguhkan arah pembangunan ke depan.
“Hari ini bukan sekadar bertambahnya usia daerah. Ini adalah momentum untuk mengingat perjalanan kita, mensyukuri capaian, dan menentukan arah Abdya ke depan,” kata Safaruddin.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para sesepuh, tokoh perintis, serta panitia pemekaran yang telah berjasa, termasuk yang telah wafat.
Safaruddin menyebut, tahun pertama kepemimpinannya bersama Wakil Bupati menjadi fase krusial dalam meletakkan fondasi pemerintahan. Ia mengakui tantangan yang dihadapi cukup berat, mulai dari keterbatasan fiskal hingga tingginya ekspektasi masyarakat.
“Setelah dilantik, kami dihadapkan bukan pada perayaan, tetapi pekerjaan dan tanggung jawab. Karena itu, kami fokus membangun fondasi pemerintahan, menata ritme kerja, dan membangun kembali kepercayaan publik,” jelasnya.
Di tengah tantangan efisiensi anggaran dan ketidakpastian ekonomi global, pemerintah daerah dituntut untuk tepat dalam menentukan prioritas pembangunan serta berani menghadirkan inovasi.
Meski demikian, sejumlah capaian mulai terlihat. Salah satunya dalam pembenahan keuangan daerah serta pemenuhan hak-hak gampong, seperti bagi hasil pajak, retribusi, dan Alokasi Dana Gampong (ADG).
Di sektor kesejahteraan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, angka kemiskinan di Abdya mengalami penurunan dari 15,32 persen pada 2024 menjadi 13,30 persen pada 2025. Artinya, sekitar 2.970 jiwa berhasil keluar dari garis kemiskinan dalam satu tahun terakhir.
“Ke depan, kami menargetkan angka kemiskinan dapat turun hingga di bawah 10 persen dalam empat tahun mendatang,” ungkapnya.
Mengakhiri sambutannya, Safaruddin menyampaikan ucapan selamat HUT ke-24 untuk Kabupaten Aceh Barat Daya, seraya berharap daerah tersebut terus berkembang menjadi wilayah yang maju, religius, terbuka, berdaya saing, dan sejahtera.
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Safaruddin dan turut dihadiri Wakil Bupati Zaman Akli, Ketua DPRK Roni Guswandi, unsur Forkopimkab, anggota DPRK, Sekretaris Daerah, para kepala SKPK, camat, keuchik, ASN, tokoh agama, tokoh adat, serta unsur TNI/Polri dan undangan lainnya. []













