Dari Negeri Seberang Mengalir Harapan: PSR Politeknik Seberang Perai Menyapa Korban Banjir Pidie Jaya

Lensapost.net | Pidie Jaya-Banjir yang melanda Aceh Jepang akhir tahun 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian kemanusiaan. Air yang datang tanpa kompromi merendam rumah-rumah warga, meluluhlantakkan perabot, mencemari sumber air bersih, dan memaksa banyak keluarga memulai hidup dari nol.

Di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Pidie Jaya, banjir meninggalkan luka yang tak mudah sembuh—lumpur di lantai rumah, kerusakan fasilitas umum, dan trauma yang tersisa di benak warga.

Namun di tengah kepedihan itu, Aceh kembali menyaksikan satu hal yang tak pernah pudar: solidaritas. Uluran tangan datang bertubi-tubi, bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari negeri seberang. Jarak geografis tak menjadi penghalang ketika kemanusiaan memanggil.

Salah satu wujud nyata kepedulian lintas negara itu hadir dari Politeknik Seberang Perai (PSP), Pulau Pinang, Malaysia. Melalui Program Pengantarabangsaan Perkongsian Ilmu dan Polytechnic Social Responsibility (PSR) Pasca Banjir di Aceh, Indonesia, PSP menjejakkan langkah kemanusiaan di Tanah Rencong pada 8–11 Februari 2026.

Program ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Kolej Komuniti dan Politeknik Malaysia, menegaskan bahwa dunia pendidikan juga memiliki panggilan moral di saat krisis melanda.

Di bawah kepemimpinan Pengarah Politeknik Seberang Perai, Tuan Haji Mohd Ruzi bin Hamzah, rombongan PSP datang bukan sekadar membawa bantuan simbolik.

Sejak awal, program PSR dirancang menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat pascabanjir: bantuan logistik, pembersihan lumpur rumah dan fasilitas umum, serta penyediaan air bersih melalui pembangunan sumur bor—sebuah ikhtiar yang dampaknya terasa hingga jauh ke depan.

Program ini menjangkau sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Pidie Jaya, daerah yang cukup parah merasakan amukan banjir. Di sini, air bah tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas sosial dan merusak fasilitas umum. Untuk memastikan bantuan berjalan efektif dan tepat sasaran, PSP membangun kolaborasi erat dengan relawan lokal, aparatur gampong, serta tokoh masyarakat.

Salah satu figur sentral dalam koordinasi lapangan adalah Tgk. Saiful Mulki, Guru MUQ Pidie Jaya, sosok agamawan dan hafidz yang telah banyak melahirkan generasi hafidz dan hafizah di negeri Japakeh.

Ia dipercaya menjadi koordinator kegiatan PSR di Pidie Jaya, menjembatani kebutuhan warga dengan program bantuan dari Politeknik Seberang Perai. Atas pertimbangan efektivitas dan kedekatan sosial, MUQ Pidie Jaya ditetapkan sebagai posko utama kegiatan kemanusiaan.

Dari posko inilah denyut solidaritas digerakkan. Bantuan logistik didistribusikan, rumah-rumah warga terdampak didata, dan aksi pembersihan lumpur dikoordinasikan.

Tim PSP bersama relawan lokal dan warga bahu-membahu membersihkan lumpur tebal yang mengendap di rumah-rumah dan fasilitas umum. Setiap sekop lumpur yang diangkat adalah simbol harapan yang perlahan kembali ditegakkan.

Selain pembersihan, bantuan logistik berupa bahan pangan, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan dasar lainnya disalurkan untuk menopang kehidupan warga pascabanjir. Bantuan ini menjadi penyangga penting, terutama bagi keluarga yang kehilangan harta benda dan sumber penghidupan akibat bencana. Termasuk paket Huntara.

Program yang paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat adalah pembangunan sumur bor. Pascabanjir, banyak sumber air warga tercemar dan tidak lagi layak konsumsi. Sumur bor yang dibangun melalui program PSR menjadi jawaban atas kebutuhan vital tersebut—menyediakan air bersih yang aman, sekaligus menekan risiko penyakit yang kerap muncul setelah banjir.

Menurut Tgk. Saiful Mulki, fase pascabanjir justru merupakan masa yang paling krusial.
“Banjir memang surut, tetapi pekerjaan belum selesai. Membersihkan rumah, memastikan air bersih, dan memenuhi kebutuhan dasar warga adalah hal yang sangat mendesak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penetapan MUQ Pidie Jaya sebagai posko sangat membantu kelancaran koordinasi dan distribusi bantuan.

Program Polytechnic Social Responsibility (PSR) ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang kuat.

Melalui pendekatan pengantarabangsaan dan perkongsian ilmu, Politeknik Seberang Perai hadir sebagai mitra kemanusiaan—bekerja bersama masyarakat terdampak, bukan sekadar datang memberi lalu pergi.

Bagi masyarakat Aceh, khususnya di Pidie Jaya, bantuan dari Malaysia membawa pesan persaudaraan serumpun yang mendalam. Di balik paket logistik dan aliran air dari sumur bor, tersimpan empati dan kepedulian yang melampaui batas negara. Banyak warga menyambut bantuan tersebut dengan haru dan syukur, merasa tidak sendirian dalam menghadapi cobaan.

Pihak Politeknik Seberang Perai juga menegaskan bahwa ikhtiar kemanusiaan ini tidak berhenti di sini. Sejumlah program lanjutan telah disiapkan dan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Prinsipnya jelas: membantu dengan perencanaan, berkelanjutan, dan memberi dampak nyata.

Aceh perlahan bangkit. Lumpur dibersihkan, air bersih kembali mengalir, dan kehidupan mulai ditata ulang. Di balik semua itu, tertinggal jejak kebaikan yang tak mudah terhapus—kerja sunyi para relawan,