Pidie Meusyuhu Kembali Raih Juara Umum Muharram MUDI Putra, Ketua Forsap: Keberhasilan Berkat Kekompakan dan Saling Berkontribusi

LENSAPOST I NET| BIREUEN — Sorak sorai santri dan gemuruh takbir bergema di kompleks Meunasah Mideun Jok, Samalanga, pada Jumat (4/7/2025) sore. Sebuah pengumuman bersejarah menggema dari panggung utama Sayembara Muharram 1447 H Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga: Pidie resmi dinobatkan sebagai juara umum.

Pasukan Tgk Chik Ditiro, julukan bagi santri Pidie yang tergabung dalam Forum Santri Pidie (Forsap), tampil membara di semua lini perlombaan. Dari arena Fahmil Kutub hingga panggung Pidato Sajak Aceh, dari bait-bait Alfiah hingga telaah Mantik dan Jauhar Maknun, Pidie tampil layaknya para kesatria ulama masa lampau yang tak sekadar hadir untuk bertanding, tetapi datang untuk mencatatkan sejarah.

Ketua Umum Forsap, Tgk Imam Al-avid Saifuddin, S.Ag, menyampaikan bahwa kemenangan ini bukanlah kejutan, melainkan buah dari perjuangan panjang dan strategi yang matang. “Alhamdulillah, perjuangan santri Kabupaten Pidie dalam Sayembara Muharram berhasil meraih juara umum. Ini mengulang sejarah tahun sebelumnya, dengan akumulasi 26 poin dan menyisihkan rival abadi Pase Aceh Utara yang hanya meraih 21 poin dan duduk di peringkat ketiga,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa Pidie berhasil menyabet tiga juara pertama masing-masing pada cabang Fahmil Kutub, Hafalan Jauharah, dan Jauhar Maknun. Kemudian tiga cabang juara dua diraih di Mantik, Pidato Sajak Aceh, dan Lomba Opini. Sementara itu, dua cabang juara tiga berhasil diraih dalam Bait Alfiah dan Mubahasah. “Setiap juara pertama bernilai 5 poin, juara dua bernilai 3 poin, dan juara ketiga 1 poin. Total perolehan Pidie adalah 26 poin,” jelas Tgk Imam dengan nada syukur.

Pidie Menyala: Hasil dari Kolaborasi dan Ketundukan

Wakil Ketua Forsap, Tgk Faziel Zainal, S.Ag, yang turut mengoordinasikan barisan pasukan Pidie, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari ketekunan, kekompakan tim, serta bimbingan para guru senior, baik yang masih aktif maupun dari kalangan alumni. Ia menambahkan bahwa semangat kolektif para santri menjadi kekuatan utama dalam menyatukan langkah.

“Kolaborasi ini menjadi modal utama pasukan Pidie menyala. Tidak hanya karena latihan dan kerja keras, tapi juga karena doa-doa dari guru dan masyarakat Pidie yang terus menyertai kami,” ujar santri asal Guelumpang Minyeuk ini.

Ia juga mengingatkan para santri agar tidak cepat puas dan terus konsisten dalam belajar. “Juara ini hanyalah sementara, sekadar washilah dalam mengembangkan keilmuan. Esensi sejatinya adalah istiqamah dalam beut seumebeut (proses belajar), memperdalam adab, dan membaktikan diri di jalan ilmu dan guru,” tegasnya.

Apresiasi dan Harapan Tokoh

Kemenangan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai tokoh Pidie. Salah satunya datang dari Tgk Ahyar M. Gade, MA, seorang agamawan muda Pidie dan alumni Dayah MUDI Samalanga. Sosok yang pernah menimba ilmu di negeri Tembok Berlin, Jerman itu, mengaku bangga atas pencapaian generasi baru santri Pedir.

“Teruslah belajar. Mempertahankan juara bukanlah hal mudah. Jangan terlena dengan gemerlap piala, karena yang utama adalah istiqamah dalam ilmu, adab kepada guru, dan semangat menuntut ilmu hingga akhir hayat. Untuk santri Pedir, ‘Pidie Menyala’ bukan hanya slogan, tapi napas perjuangan,” ujar kandidat doktor UIN Sumatera Utara itu.

Mengubur Asa Pase Aceh Utara

Rivalitas klasik antara Pidie dan Pase Aceh Utara kembali tersaji dalam kompetisi yang ketat dan panas. Bendahara Forsap, Tgk Ikramullah, S.H., menyatakan bahwa kali ini, Pidie tidak sekadar mengungguli, tetapi benar-benar mengubur asa rival bebuyutan tersebut. Jika pada edisi sebelumnya Aceh Utara mampu memberi tekanan hebat, kali ini Pidie tampil lebih matang, percaya diri, dan tidak memberi ruang sedikit pun.

“Di tribun, para santriwan dan santriwati dari Pidie menyambut pengumuman itu dengan teriakan takbir dan aplaus membahana. Bendera kehormatan dikibarkan tinggi sebagai simbol bahwa Pidie masih bertaji, masih menguasai arena keilmuan dan perlombaan paling bergengsi dalam kalender Dayah MUDI,” ungkap Tgk Ikramullah, putra kelahiran Paloh Sigli.

Pidie Menyala, Lebih dari Sekadar Juara

Ia menambahkan bahwa “Pidie Menyala” bukan sekadar yel-yel atau semboyan pertandingan. Lebih dari itu, ia telah menjadi identitas kolektif santri Pidie di Dayah MUDI dan tempat lainnya. “Itu adalah semangat yang menyatu dalam bait-bait kitab kuning, dalam adab kepada guru, dalam denyut perjuangan intelektual dan spiritual santri Pedir.”

Ia juga mengingatkan, “Santri Pidie tak boleh euforia. Perjuangan masih panjang, bukan hanya sekadar lomba Muharram, tetapi jihad membasmi kejahilan di zaman sekarang. Kemenangan di Sayembara Muharram ini bukan semata soal trofi.”

Menurutnya, keberhasilan ini menjadi tonggak semangat bahwa santri Pidie tidak hanya mampu membaca dan menghafal kitab, tetapi juga mampu berstrategi, berorganisasi, dan menginspirasi.

“Sampai jumpa di medan juang berikutnya. Dan ingatlah, selama semangat beut seumebeut masih berkobar, Pidie akan terus menyala,” pungkas Tgk Ikramullah penuh haru.