Headline

Tensi Ibunda Ani Yudhoyono Sempat Tinggi dengar Kabar Duka

Ani Yudhoyono | AFP PHOTO / ADEK BERRY

LENSAPOST.NET— Tensi darah Ibunda Ani Yudhoyono, Hj. Sri Sunarti Hadiyah, dikabarkan sempat naik usai mendengar kabar kepergian istri dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.

Hal itu dituturkan adik kandung Ani Yudhoyono, Mastuti Rahayau, dalam wawancara bersama CNNIndonesia TV. Mastuti mengaku mendengar kabar Ani Yudhoyono tutup usia dari sang kakak, Wrahasti Cendrawasih yang sudah berada di Singapura.

“Tadi pagi, jam 10 lebih saya sudah dengar kondisi Ibu Ani menurun. Lalu saya izin ke ibu saya [Hj. Sri Sunarti Hadiyah] untuk berdoa, mengaji baca Yasin. Saya tutup pintu, saya tidak lihat handphone. Saya fokus. Lalu kakak saya telepon dari Singapura, kasih tahu katanya beliau [Ibu Ani] sudah tidak ada,” ujarnya.

Mastuti pun kemudian harus menyampaikan kabar duka tersebut pada sang ibunda.

“Saya pelan-pelan dekati ibu, saya bilang:’Ibu sudah ikhlas, kan? Ibu, Mbak Ani sudah tidak ada’. Beliau nangis. Tensinya sempat naik, lalu dokter datang periksa beliau dan kasih obat. Pelan-pelan beliau bisa menerima dan bisa ikhlas,” kata Mastuti menuturkan.

Terakhir kali Mastuti bertemu dengan Ani Yudhoyono tepat sebelum pemilik Bintang Jasa Adipradana itu dirawat intensif di Singapura. Kala itu, Ibu Ani dan SBY menjenguk sang ibunda yang sempat sakit dan dirawat di rumah.

“Beliau (Ani) datang menengok ibu setelah cek lab [laboratorium]. Saya tanya, beliau menjelaskan ke saya hasilnya belum tahu. Saya suguhi makanan, beliau tidak makan karena sedang diet diminta dokter. Tidak lama beliau bilang di grup Whatsapp kalau hasil lab-nya jelek Beliau pergi ke RSGS [Rumah Sakit Gatot Soebroto] periksa ulang dan hasilnya tetap jelek. Lalu beliau malamnya langsung berangkat ke Singapura,” ujar Mastuti menceritakan perjumpaan terakhir dengan sang kakak.

Selama dirawat secara intensif di Singapura, Mastuti sempat menjenguk Ani Yudhoyono pada April lalu. Namun, Mastuti hanya bisa melihat sang kakak dari luar ruangan perawatan.

“Tidak bisa berpelukan. Ibu Ani bilang:’saya ingin peluk kamu tapi saya belum bisa. Saya drop’. Itu yang buat saya nangis,” kenang Mastuti.

Mastuti menyebut Ani memiliki banyak pengagum. Di mata Mastuti, kakaknya adalah sosok yang sangat pintar sejak kecil. Ketika Mastuti merasa kesulitan memahami pelajaran sekolah, Ani Yudhoyono turun tangan untuk mengajarkan.

“Kalau saya enggak bisa, beliau yang ajarkan seperti guru. Saya bisa langsung mengerti dan dan besoknya pas ulangan dapat nilai paling bagus,” kata sang adik.

Ani Yudhoyono meninggal dunia pada Sabtu (1/6) pukul 11.50 di rumah sakit National University (NUH) Singapura. Ani sempat dirawat selama empat bulan karena sakit kanker darah.

Dokter kepresidenan RI, Terawan Agus Putranto meyebut kondisi Ani sempat membaik pada Jumat (31/5), tapi tak bertahan lama sehingga harus menggunakan respirator.

Hingga wafat, Ani belum sempat melakukan donor sumsum tulang belakang yang rencananya akan diberikan sang adik Pramono Adhie Wibowo. Rencana donor urung dilakukan karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Sumber : CNN Indonesia

Leave a Response