Lensapost

Mahasiswa Asal Bireuen Minta Bupati Tinjau Ulang Himbauan Yang Telah Diterbitkan

Izan Aulia Rahman

BIREUEN –  Satu apresiasi yang mesti nya diberikan oleh seluruh masyarakat Bireuen terhadap kinerja satu tahun lamanya bupati bireuen menjabat sebagai orang nomor satu di daerah yang dijuluki sebagai kota juang dan kota keripik itu, ya walaupun pembangunan yang dilakukan masih terlalu minim secara visual bahkan secara pengetahuan.

Namun, beberapa waktu silam publik di sedu suatu isu hangat terkait standarisasi warkop/cafe berdasarkan norma-norma keislaman. Himbauan yang dicetuskan oleh bupati bireuen itu banyak menarik perhatian publik yang ditandai dengan marak nya kicauan-kicauan di berbagai jenis media sosial, bahkan perbincangan hangat sampai di meja bundar yang dilengkapi secangkir kopi (warkop).

Cacian bahkan hinaan pun tak terbendung, apakah itu bertanda masyarakat tidak mendukung terealisasi nya syariat islam di kota juang ? Bukan masyarakat menolak akan imbauan tersebut, namun perlu tinjauan ulang terhadap imbauan yang telah di buat yang di anggap agak sedikit keliru. Untuk mereka yang telah membuat suatu imbauan terkait standarisasi warkop/cafe berdasarkan syariat islam, cuma sedikit permintaan dari putra kota juang kelahiran gandapura, masyarakat hanya menginginkan agar struktur pola pikir yang di bentuk jangan terlalu terkesima di era 60an saja.

Ada beberapa poin yang tertera dalam imbauan tersebut yang perlu di klarifikasikan bahkan harus adanya suatu penjelasan secara mendetail agar masyarakat bisa menerima dan ikut membantu dalam mengimplentasikan kebijakan tersebut. Seperti hal nya poin yang menyatakan

” Dilarang melayani pelanggan perempuan diatas jam 21.00 selain dengan mahram nya, dan haram hukum nya bagi laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahram nya” poin di atas perlu penjelasan secara menyeluruh.

Kalau memang imbauan tersebut bersikeras untuk di aplikasikan bagaimana nasib pekerja perempuan di warkop ? Bahkan kita juga mengetahui standar jadwal open warkop/cafe dari jam 9.00 s/d 00.00, dan bagaimana nasib pekerja kantor yang kerja lembur semisal di masa-masa pembahasan anggaran, bahkan para perawat sekalipun yang jam dinas malam ?

ist

Alangkah baik nya untuk memulai penerapan nilai nilai keislaman di mulai dari pejabat publik yaitu pembuatan suatu regulasi terhadap standarisasi pakain yang bernormakan syariat islam, jadi untuk selanjut nya bisa di lahirkan regulasi keislaman terhadap masyarakat.

Masih ingat kah suatu isu di daerah x yang melarang kaum hawa untuk duduk ngangkang di atas kenderaan bermotor, Berdasarkan evaluasi apakah bisa direalisasikan ? Seharusnya belajar dari pengalam kita bisa lebih cerdas dalam memikirkan suatu hal untuk mengembangkan daerah.

Terimakasih bapak bupati kami, kami putra bireuen sangat bangga dengan tindakan yang bapak lakukan, karena dengan kebijakan yang bapak lakukan masyarakat mau berpikir lebih leluasa dan lebih cerdas. Namun satu hal yang perlu kita pikirkan bersama-sama, jangan sampai mindset yang kita bentuk selalu tertinggal dengan perkembangan zaman ( kurang berperadaban ). Masih banyak hal yang perlu di tindak lanjuti secara serius, kenapa hari ini edaran sabu-sabu di dominasi oleh masyarakat bireuen. Jangan terlalu manjaga sebatang emas bahkan berlian permata kian menghilang.

Ya kami harap standarisasi kelayakan suatu tempat yang berlandaskan nilai keislaman tidak hanya di wakop/cafe saja, tapi bisa juga untuk melirik beberapa tempat lain nya, seperti instansi-instasi pemerintah juga.

Oleh : Izan Aulia Rahman 

Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Dari Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen

Redaksi

Komentar

Lensapost.net

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com