JOKO WIDODO, atau yang lebih akrab disapa Jokowi, lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Ia tumbuh bukan dari keluarga bangsawan, bukan pula dari dinasti politik. Orangtuanya hanya rakyat biasa yang tinggal di pinggiran kota, hidup dari usaha kecil dan kerja keras. Kesederhanaan latar belakang inilah yang kelak membentuk karakter kepemimpinan Jokowi, berbeda dengan banyak pemimpin sebelumnya yang berasal dari keluarga elite politik atau militer.
Kesederhanaan Jokowi dan Akar Kepemimpinan
Sejak muda, Jokowi ditempa oleh kesulitan hidup. Masa kecilnya bahkan pernah diwarnai dengan penggusuran rumah keluarganya karena menempati tanah yang bukan hak milik. Pengalaman pahit itu menumbuhkan kepekaan sosial, membuatnya mengerti bagaimana getirnya hidup rakyat kecil. Dari pengalaman itulah muncul sikap rendah hati dan keinginan kuat untuk memahami aspirasi rakyat secara langsung. Ia memilih untuk membangun komunikasi tanpa sekat, sesuatu yang kelak dikenal dengan gaya blusukan—turun langsung ke pasar, kampung, atau pelosok desa. Gaya blusukan bukan sekadar pencitraan, melainkan strategi kepemimpinan yang berbeda. Dengan blusukan, Jokowi meruntuhkan jarak antara pemimpin dan rakyat. Ia mendengar keluhan langsung, tanpa filter birokrasi. Inilah bentuk nyata dari firman Allah:”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. al-Hijr: 88).
Ayat ini menegaskan pentingnya kerendahan hati seorang pemimpin, meskipun ia memegang kekuasaan tertinggi. Sikap ini selaras dengan pemikiran Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, bahwa seorang pemimpin sejati adalah yang tidak mengasingkan diri dari rakyatnya, tetapi hadir di tengah-tengah mereka, mendengar, dan memberi solusi.
Kesederhanaan Jokowi tampak dalam gaya hidupnya. Meski menjabat presiden, ia tidak mengubah pola hidupnya secara drastis. Ia tetap makan di warung sederhana, tetap berpakaian dengan gaya khas kemeja putih lengan panjang yang digulung, dan tetap berbicara dengan bahasa rakyat. Semua itu menumbuhkan citra Jokowi sebagai pemimpin yang tidak berjarak.Kesederhanaan inilah yang membuat Jokowi mendapat simpati luas.
Banyak rakyat melihat dirinya dalam sosok Jokowi: sederhana, pekerja keras, dan penuh semangat. Akar kepemimpinannya bukanlah dinasti politik, melainkan pengalaman hidup yang pahit dan perjuangan sebagai pengusaha kecil. Dari situlah, Jokowi membangun legitimasi sosial yang kokoh. Ia bukan pemimpin yang dipaksakan oleh sistem, melainkan lahir dari denyut aspirasi rakyat kebanyakan.
Sepuluh Tahun Capaian Pembangunan dan Program Sosial
Memimpin Indonesia selama dua periode (2014–2019 dan 2019–2024), Jokowi mencatat banyak capaian pembangunan. Prioritas utamanya adalah infrastruktur. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, Indonesia menyaksikan pembangunan jalan tol yang masif: lebih dari 1.800 km jalan tol baru dioperasikan, menyambungkan kota-kota besar hingga daerah pinggiran.
Selain tol, ratusan jembatan strategis dibangun, puluhan bendungan diresmikan, dan jaringan listrik desa meluas hampir ke seluruh pelosok negeri. Program tol laut menghadirkan konektivitas baru antara wilayah timur dan barat Indonesia, mengurangi disparitas harga. Bandara-bandara baru di Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara menjadi simbol pemerataan pembangunan.Namun, capaian Jokowi bukan hanya pembangunan fisik. Di bidang sosial, ia meluncurkan berbagai program kerakyatan. Kartu Indonesia Sehat (KIS) memberi akses layanan kesehatan gratis bagi rakyat miskin. Kartu Indonesia Pintar (KIP) membantu jutaan anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap bersekolah. Program Keluarga Harapan (PKH) menopang kebutuhan rumah tangga miskin, sementara Dana Desa mendorong pembangunan berbasis lokal, menghidupkan kembali peran gampong sebagai pusat ekonomi dan sosial.
Dampak nyata terlihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS). Angka kemiskinan nasional menurun dari sekitar 11,2% pada 2014 menjadi sekitar 9,3% pada 2023, meski sempat naik saat pandemi COVID-19. Tingkat pengangguran juga relatif terkendali, bahkan menurun pasca-pandemi. Program BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan subsidi selama pandemi menjadi penyelamat ekonomi jutaan keluarga. Hadis Nabi SAW menegaskan:”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad).. Dalam perspektif ini, pembangunan infrastruktur dan program sosial Jokowi adalah wujud pengabdian yang memberi manfaat luas. Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menafsirkan hadis tersebut sebagai dorongan agar pemimpin mengutamakan kemaslahatan umum, bukan kepentingan pribadi. Maka, capaian sepuluh tahun Jokowi adalah ikhtiar menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa, meski tentu ada keterbatasan dan kekurangan.
Kritik, Kontroversi, dan Isu Politik
Meski capaian Jokowi banyak, masa pemerintahannya tidak lepas dari kritik. Salah satu yang paling menonjol adalah lahirnya Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law). Sebagian kalangan menilai UU ini lebih berpihak pada investor dibanding buruh, sehingga menimbulkan gelombang demonstrasi. Selain itu, proyek ambisius pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara juga menuai pro-kontra. Di satu sisi, proyek ini dianggap visioner untuk mengurangi beban Jakarta. Namun, di sisi lain, banyak pihak khawatir akan dampak ekologis, pembengkakan biaya, dan keterbatasan waktu pembangunan.
Kritik lain datang saat revisi UU KPK tahun 2019, yang dipandang melemahkan lembaga antikorupsi. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang komitmen pemerintahan terhadap pemberantasan korupsi. Dari sisi fiskal, utang negara juga meningkat drastis, meski pemerintah berdalih rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih aman.
Polemik paling sensasional adalah tuduhan palsu terkait keaslian ijazah Jokowi. Isu ini berkembang luas di media sosial, bahkan dipakai sebagai alat politik. Padahal Universitas Gadjah Mada telah menegaskan secara resmi bahwa Jokowi adalah alumnus sah Fakultas Kehutanan, lulus tahun 1985. Pernyataan Rektor UGM dan bukti akademis menutup ruang keraguan. Namun demikian, politik seringkali lebih tunduk pada narasi daripada fakta.Menariknya, Jokowi memilih diam dan terus bekerja. Ia tidak terjebak dalam debat politik yang melelahkan. Sikap ini sejalan dengan nasihat Imam al-Ghazali dalam al-Tibr al-Masbuk, bahwa seorang pemimpin yang larut dalam fitnah tidak akan pernah selesai melayani rakyat. Maka, keputusan Jokowi untuk tetap fokus bekerja adalah tanda kematangan politik, meski kritik terus menghantam.
Warisan Teladan dan Jejak Pengabdian
Jika ditimbang secara utuh, pengabdian Jokowi lebih banyak menghadirkan manfaat daripada mudarat. Warisan infrastruktur menyatukan negeri, program sosial mengurangi kemiskinan, hilirisasi sumber daya alam memperkuat kemandirian ekonomi, serta diplomasi internasional meningkatkan posisi Indonesia di mata dunia.Namun, warisan terbesarnya bukan semata catatan pembangunan, melainkan teladan moral. Kesederhanaan hidup, gaya komunikasi yang membumi, dan filosofi melayani rakyat adalah nilai yang lebih abadi. Al-Qur’an menegaskan:”Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24).
Ayat ini menggambarkan dua kualitas pemimpin: kesabaran dan keyakinan. Sepuluh tahun Jokowi menunjukkan kesabaran menghadapi kritik dan fitnah, serta keyakinan untuk tetap bekerja demi rakyat.
Imam an-Nawawi menulis bahwa pemimpin ideal adalah yang menganggap dirinya hamba, bukan penguasa. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dalam kacamata ini, Jokowi berusaha menghadirkan kepemimpinan yang berpijak pada amanah, meski tentu tidak sempurna. Ia bukan malaikat; ada kekurangan, ada kebijakan yang diperdebatkan. Namun dalam sejarah, ia akan dikenang sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat, dan kembali kepada rakyat.Warisan itu bukan hanya catatan politik, melainkan juga teladan moral: bahwa kepemimpinan adalah pengabdian, bukan privilege. Pengabdian itu yang akan menjadi jejak abadi dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Akhirnya, kepemimpinan Jokowi harus kita terima sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa. Ia datang dari rakyat, memimpin dengan cara sederhana, dan kembali kepada rakyat dengan segala cerita suka dan duka. Ia manusia biasa, banyak salah, banyak benar. Tetapi sebagaimana pesan para ulama, janganlah kita hanya menakar kekurangan seorang pemimpin, melainkan ambillah hikmah dari setiap pengabdiannya.Dari Jokowi, bangsa ini belajar bahwa kesederhanaan bisa menjadi kekuatan, kerendahan hati bisa melahirkan kepercayaan, dan kesabaran bisa menumbuhkan keteguhan. Inilah warisan yang lebih berharga dari apa pun: teladan moral bahwa kepemimpinan adalah amanah untuk mengabdi, bukan hak untuk diagungkan.Maka marilah kita berdoa agar Allah senantiasa menjaga negeri ini dengan para pemimpin yang jujur, sederhana, dan sabar.
Semoga bangsa ini terus melahirkan pemimpin yang, meski hanya manusia biasa, mampu menghadirkan maslahat besar bagi umat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Semoga Jokowi dikenang bukan karena gemerlap kekuasaan yang pernah ia pegang, tetapi karena manfaat yang ia tinggalkan. Dan semoga pengabdian itu menjadi teladan abadi, yang mengilhami lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih mencintai rakyatnya.
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
Gus Nanda Ketua PC ISNU Pidie












