EkobisHeadline

Ingin Gaungkan Kopi Aceh Ke Penjuru Dunia

ACEH -Komoditas kopi, khususnya jenis arabika, merupakan komoditas sub sektor perkebunan yang sangat penting dalam struktur ekspor Aceh. Pada tahun 2017, sebanyak 3,87 juta kilogram kopi telah diekspor dan memberikan sumbangan terhadap ekspor Aceh senilai dengan USD34,41 juta. Angka tersebut merupakan 23,43% dari total ekspor Aceh pada tahun tersebut.

Besarnya jumlah ekspor kopi tersebut tidak terlepas dari produktivitas tanaman kopi yang terus mengalami peningkatan. Selama beberapa tahun terakhir, produktivitas kopi Aceh masih berada di atas produktivitas kopi nasional dengan angka 754 kg/ha pada tahun 2017.

Angka tersebut tercatat lebih tinggi apabila dibandingkan dengan produktivitas nasional yang berada pada angka 721 kg/ha. Dengan produktivitas tersebut, produksi kopi Aceh memiliki proporsi sebanyak 10,25% terhadap produksi kopi nasional.

Secara spasial, Kabupaten utama pemasok produksi kopi di Aceh berturut-turut adalah Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Dalam konteks optimalisasi potensi kopi, apabila seluruh lahan kopi di Aceh (100%) telah memiliki tanaman menghasilkan (TM), diperkirakan jumlah produksi kopi Aceh dapat mencapai 82.539 ton. Dengan angka tersebut, nilai ekspor nominal yang dapat diterima Aceh dari hasil kopi dapat mencapai USD144,64 juta/tahunnya (harga ekspor kopi Indonesia tahun 2017 sebesar USD2,56/kg). Mayoritas ekspor kopi Aceh masih berupa komoditas primer/mentah (berupa green bean atau unroasted coffee).

Pemerintah Aceh telah mulai mengupayakan fasilitasi akses pemasaran pada pelaku usaha kopi. Pada tahun 2017, Pemerintah Aceh memfasilitasi pameran berskala internasional, World of Coffee Expo di Budapest-Hungaria. Selain itu, pada tahun ini, Bawadi Coffee (salah satu UMKM Binaan BI) juga memperoleh kesempatan untuk mengikuti pameran ARCHEX bertema “Indonesia Specialty Coffee and Tea Festival” di Malaysia. Keikutsertaan ini sebagai hasil atas inisiatif untuk bekerjasama dengan KBRI terkait sharing informasi pameran.

Untuk memahami lebih jauh tentang potensi pengembangan ekspor kopi, pada Kamis, 20 September 2018, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh melakukan pertemuan dengan Matthew Boehm, salah satu pakar kopi berkewarganegaraan Jerman di ruang rapat Kepala Perwakilan BI Aceh. Acara dimaksud juga dihadiri oleh akademisi dari Universitas Syiah Kuala, yaitu Dr. Yusya Abubakar dan Dr. Heru P. Widayat.

“Sangat berat untuk menyaingi brand Kopi Mandailing dalam konteks ekspor di luar negeri, terutama wilayah Eropa” ujar Matthew. Hal ini dikarenakan selama ini merek yang dijual mayoritas menggunakan branding “Mandailing”.

Untuk memperkuat traceability dan kekhasannya, Office for Harmonization in The Internal Market (OHIM) telah menyerahkan sertifikat merek kolektif Kopi Arabika Gayo pada tahun 2015. Dalam konteks kompetisinya dengan negara penghasil kopi, Indonesia menempati posisi ketiga produksi kopi dunia, setelah Brazil, Vietnam dan Kolumbia. Berdasar informasi dari Matthew, Vietnam diperkirakan mampu memproduksi 3 juta bags green bean (1 bag sekitar 60 kg), sekitar 90% robusta dan 10% arabica. Berbeda dengan kopi Gayo yang mayoritas berjenis arabica.

Ketika ditanya tentang peluang pengembangan roasted coffee Aceh, Matthew menyarankan agar Indonesia lebih berfokus pada pengembangan produktivitas green bean.

“Di Eropa atau US, beberapa negara punya kultur kopi sendiri, punya profil roasted coffee-nya sendiri sehingga proses roasting menjadi sangat menentukan. Selain itu, ada teknik packaging yang memerlukan dukungan teknologi yang cukup canggih (misalnya memastikan tidak ada oksigen yang masuk), serta ada tes tersendiri untuk kualitas dari packaging tersebut”ujar Matthew.

“Kami membaca ada global supply chain yang telah terbentuk dalam rantai perdagangan kopi, sebagaimana komoditas lainnya. Dengan demikian, tugas pokok dari Pemerintah dan stakeholder perlu difokuskan pada pembenahan produktivitas dan kualitas kopi, serta bagaimana meningkatkan kesejahteraan para petani kopi melalui perbaikan nilai tukar petani dan optimalisasi produk sampingan yang dihasilkan oleh tanaman kopi”, tambah Z. Arifin Lubis, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh.

Hal tersebut diamini oleh Yusya Abubakar. Menurutnya, selama ini tidak ada ketentuan mengenai kualitas kopi dalam konteks perdagangan antara trader dengan petani. “Yang dikejar oleh para trader hanya kuantitas, dan meski ada peningkatan kualitas, tidak ada peningkatan harga yang signifikan bagi para petani, sehingga tidak ada insentif untuk meningkatkan kualitas produksi kopi” ujarnya.

Peluang pengembangan kopi memang perlu lebih diperhatikan oleh Pamerintah dan stakeholder terkait, terlebih kopi memiliki keunikan pasar tersendiri. Para penikmat kopi cenderung tidak membandingkan dan mempermasalahkanm harga, tetapi lebih mengutamakan kualitas dan keunikan rasa.

Oleh karenanya, Matthew berpendapat kopi Brazil, meskipun memiliki harga yang murah, tidak bisa mensubstitusi kopi Aceh. “Pasar kopi arabica dan robusta memilki perbandingan 60:40, sehingga potensi ekspor kopi Aceh sangat terbuka lebar, mengingat para produsen kopi di negara lain juga akan menemui keterbatasan lahan produksi, dan permasalahan lain seperti faktor upah tenaga kerja, sehingga peluang Aceh dalam bisnis ini masih terbuka lebar” ujarnya.

“Untuk itu, dengan luas lahan mencapai 123.696 hektar, serta membaca peningkatan konsumsi kopi dunia yang cukup tinggi, sudah saatnya kita mencanangkan cita-cita terbaik untuk kopi Aceh, yaitu bagaimana mengupayakan agar kopi Gayo dapat dikenal dan memperoleh share pemasaran di Eropa, Amerika, dan berbagai negara lain di dunia”, tutup Z. Arifin Lubis mengakhiri sesi diskusi.

Leave a Response