EkobisNews

Bayar Zakat, Waqaf dan Sedekah Kini Bisa Lewat Aplikasi

BALI – Pengembangan wakaf di Indonesia telah memasuki babak baru. Wakaf yang selama ini lebih banyak dikenal dalam bentuk masjid, musholla, tanah dan aset fisik lainnya.

Saat ini telah berevolusi menjadi wakaf yang dapat dikaitkan dengan sukuk sebagai salah satu instrumen keuangan syariah. Untuk menandai momen penting ini, Bank Indonesia meluncurkannya dalam sebuah international conference.

Adapun luncuran Bank Indonesia tersebut bertema “Launching Waqf Core Principles dan Cash Waqf-Linked Sukuk”. Acara ini merupakan rangkaian dari IMF-World Bank Group Annual Meetings 2018 di Nusa Dua, Bali, pada  Minggu 14 Oktober 2018.

Acara launching dihadiri oleh Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia), Sri Mulyani (Menteri Keuangan), Dr. Bandar M. H. Hajjar (President of ISDB), Bambang Brodjonegoro (Menteri Bappenas), dan M. Nuh (Ketua Badan Wakaf Indonesia).

Beberapa narasumber tingkat nasional-international ikut memperkaya khazanah mengenai wakaf, diantaranya Dody Budi Waluyo (Deputi Gubernur Bank Indonesia), Dr. Mahmoud Mohieldin (World Bank), Achim Steiner (UNDP), dan Dr. Bello Lawal Danbatta (IFSB).

Diskursus mengenai waqf core principles (tata kelola wakaf) dan konsep waqf linked sukuk telah diawali sejak tahun 2016 oleh Bank Indonesia. Berdasarkan data BWI, potensi tanah wakaf di Indonesia mencapai sekitar 4 juta hektare (ha) yang tersebar di sekitar 400 ribu titik dengan perkiraan nilai sebesar Rp 2.050 Triliun.

Potensi ini tidak akan tergarap dengan optimal apabila tidak ada pendanaan dan konsep pemanfaatan yang produktif. Dengan konsep waqf linked sukuk, diharapkan ada kerja sama yang dibangun antara BWI, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, Kementerian Sosial, serta BUMN karya.

Secara singkat, waqf linked sukuk adalah sukuk yang diterbitkan dalam rangka membangun infrastruktur di atas tanah wakaf. Keuntungan dari penggunaan infrastruktur akan dibagikan kepada pihak-pihak yang terlibat, termasuk nazhir yang nantinya akan menyalurkannya kepada mauquf alaih.

Dalam seminar ini, Mahmoud Mohieldin menekankan agar pengembangan sukuk berbasis wakaf ini dapat searah dengan konsep sustainable development growth (SDG). Menurutnya, konsep wakaf produktif diharapkan tetap memiliki fokus dalam rangka mendukung target-target SDG dan memperkuat inclusive-sustainable growth.

Hal ini perlu didukung dengan koordinasi antar lembaga, ketersediaan tenaga ahli profesional, infrastruktur yang terencana, literasi konsep wakaf dan stabilitas ekonomi yang baik. Dalam kesempatan tersebut, Mahmoud juga menyampaikan pentingnya regulator dan stakeholder untuk memperhatikan perkembangan teknologi digital yang berpotensi mendisrupsi cara pengumpulan dana sosial Islam, termasuk wakaf.

Hal yang sama diamini oleh Achim Steiner. Perwakilan UNDP ini menyampaikan bahwa lembaganya saat ini tengah mengkaji optimalisasi wakaf di era digital dengan memanfaatkan sistem blockchain.

Apabila disrupsi ini tidak diperhatikan oleh para sarjana ekonomi Islam, dikhawatirkan akan memunculkan persoalan dari sisi fiqih.

Sementara Dr. Bello Lawal Danbatta menyampaikan pentingnya para sarjana ekonomi syariah untuk mampu menjelaskan kesesuaian teknologi yang berkembang dengan aspek fiqih kontemporer untuk merespon perkembangan di era disrupsi.

Hal ini diperlukan agar pembayaran zakat melalui aplikasi, sedekah, dan wakaf melalui mesin ATM dengan tata cara yang sama sekali berbeda, dapat tetap memperhatikan prinsip pokok yang telah diatur dalam syariah Islam.

Secara umum, partisipan yang hadir dalam acara tersebut menyambut baik launching waqf core principles dan sukuk linked waqf. Para delegasi memberikan apresiasi positif, dan meyakini bahwa peluncuran event ini dapat semakin meneguhkan cita-cita Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia.

Konsep waqf linked sukuk merupakan terobosan yang dapat diarahkan untuk menyelesaikan beberapa persoalan sekaligus, yaitu funding gap dalam rangka pembangunan infrastruktur, peningkatan produktivitas tanah sebagai salah satu faktor produksi, sekaligus menekan permasalahan kemiskinan dalam satu konsep yang terintegrasi, dan tanpa memberatkan anggaran belanja daerah. Investor sukuk wakaf pun akan meraih dua hal, yaitu hasil investasi sekaligus beramal

Berdasarkan data BWI, Aceh memiliki tanah wakaf seluas 767.869.012 meter persegi (17,61% tanah wakaf nasional) yang tersebar di 24.898 titik. Dari jumlah tersebut, 13.730 diantaranya telah bersertifikat, sehingga ada 11.168 titik yang masih menjadi pekerjaan rumah BWI dan BPN untuk memastikan sertifikasi tanah wakaf tersebut.

Dalam konteks wakaf tunai, apabila kesediaan masyarakat untuk berwakaf semakin tinggi, dapat kita hitung betapa besar potensi wakaf tunai yang dapat dikumpulkan mengingat Aceh dihuni lebih dari 90% penduduk muslim.

Dengan demikian, melihat besarnya potensi yang dimiliki Aceh, langkah awal yang perlu segera dilakukan adalah menghimbau perbankan untuk mendaftarkan diri sebagai LKS PWU, serta melakukan edukasi kepada nazir dan masyarakat agar lebih berkontribusi aktif dalam mengimplementasikan konsep wakaf produktif.

Selagi proses awal ini berjalan, mapping potensi tanah produktif (termasuk sertifikasinya) dan konsep pengembangannya harus dilakukan secara paralel.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Aceh berkomitmen untuk mendukung berbagai upaya untuk merealisasikan pemberdayaan ekonomi berbasis wakaf ini. Realisasi konsep sukuk linked waqf ini diharapkan dapat mewujudkan Aceh yang sejahtera dan berkah.

Sebagai informasi, bukan hanya kali ini otoritas moneter di Indonesia tersebut ikut berkontribusi aktif dalam keuangan sosial Islam. Sebelumnya, Bank Indonesia juga secara aktif menginisiasi dan mampu mendorong lahirnya zakah core principles (tata kelola zakat).

“Dapat dikatakan, Bank Indonesia merupakan otoritas yang konsisten dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, dengan memperhatikan sisi keuangan komersial dan sosial Islam secara berimbang, yang salah satunya dibuktikan dengan peluncuran sukuk berbasis wakaf,” demikian Kata Kepala BI Perwakilan Aceh.

Leave a Response